Kasus Kekerasan Anak

Beberapa waktu lalu kita mendengar berita di Depok Jawa Barat  tentang anak yang baru berusia belasan tahun tega menusuk temannya sendiri. Alasannya sungguh sepele, yakni hanya karena masalah telepon seluler. Ada juga kejadian di Jakarta  seorang kakak membekap adiknya hingga meninggal karena jengkel. Sedangkan di Makasar anak sekolah menengah pertama tega menyilet wajah rekannya setelah saling ejek. Pada kesempatan kali ini maimelajah.com akan mengupas tuntas tentang dampak Media dan Games Penyumbang Kekerasan Pada Anak

Fenomena Kekerasan Anak

Kejadian ini tentunya membuat kita miris, terutama orangtua. Apa yang salah dengan pola asuh  yang dilaksanakan selama ini? Atau apakah perilaku kekerasan yang terjadi belakangan ini berhubungan dengan lingkungan sosialnya. Kejadian ini kemudian menjadi bahasan dimana-mana, termasuk seminar khusus yang diadakan oleh lembaga-lembaga pemerhati anak. Bagaimana tidak, anak yang seharusnya bertugas menuntut ilmu di bangku sekolah, malah menjadi pesakitan di balik bui. Berdasarkan data yang diambil dari Komnas Perlindungan Anak, kasus anak-anak yang berhadapan dengan hokum cenderung menningkat. Di tahun 2004 saja sekitar 4000 kasus, di tahun 2006 ada 6000 kasus, dan di tahun 2011 sebanyak 7000 kasus. “Kekerasan bermunculan, terutama dari tayanganvisual. Itu memberi beban psikologi besar kepada anak”, kata Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Peran media

Media dan video games diduga menjadi salah satu penyumbang dari perilaku kekerasan pada anak. Tayangan tindak kekerasan dengan sangat gambling dipertontankan di televisi. Reka  adegan pembunuhan, pembantaian, dan penganiayaan pun dapat dengan mudah dilihat di televise maupun diakses melalui internet. Tidak hanya orang dewasa yang menyaksikan, melainkan juga anak-anak.  Jika tidak didampingi orangtua, maka tayangan yang berbau kekerasan tersebut dapat mempengaruhi pemikiran anak. Hal inilah yang kadang tidak disadari.

Pola Asuh Orang Tua

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa pola pikir anak cukup banyak dipengaruhi oleh pola asuh orangtua dan pergaulan social. Yang tidak boleh disepelekan, tayangan kekerasan akan membentuk pola pikir dan menjadi nilai bagi anak. Sementara di sekolah anak dituntut untuk memahami nilai kehidupan, mulai dari empati, tolong-menolong, dan kasih sayang dengan sesame. Namun kenyataannya, di kehidupan riil yang mereka dapatkan nilai-nilai itu justru bertentangan dengan yang dipelajari di sekolah. Hal ini terjadi bahkan juga di lingkungan sekolah. Tayangan kekerasan di televisi atau media lainnya akan direkam oleh anak menjadi suatu kebenaran karena tidak ada hukuman atau sangksi bagi pelanggar. Tanpa bimbingan yang tepat, anak menganggap kekerasan itu sebagai hal yang boleh dilakukan.

Perilaku anak seperti tidak mau kalah dengan orang dewasa. Bearagam kekerasan pun mengitari dunia mereka. Padahal masa anak dan remaja adalah waktu dimana mereka meniru. Namun persoalannya, kematangan mental mereka belum mampu mencerna yang baik dan buruk. Fase meniru itu makin kritis ketika di lingkungan anak tidak ada figur yang kuat untuk menerapkan nilai moral. Sebaliknya tayangan di televisi maupun video game malah memperlihatkan kekerasan. Tayangan kekerasan di Televisi dan kebiasaan main game dari berbagai penelitian ternyata berpengaruh buruk pada anak terutama usia 4-5 tahun hingga remaja. Mereka cenderung agresif baik dalam pikiran, emosi, dan perilaku. Hidup di tengah kondisi keras dan agresif sejak kecil menumbuhkan penilaian anak bahwa kekerasan adalah solusi. Kekerasan dilihat sebagai alat untuk menyelesaikan masalah. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor terjadinya tindak kekerasan pada anak yang terjadi akhir-akhir ini.

Dampak negatif video game

Menurut psikolog penting sekali bagi orangtua untuk mengenali jenis-jenis video game yang beredar di zaman sekarang ini. Berbeda dengan model  lama, game saat ini memiliki gambar yang lebih realistis sehingga anak akan lebih tertarik dan merasa sedang bermain di dunia sungguhan. Selain itu game tersebut menyediakan pilihan bagi anak agar bisa memilih karakter yang akan dimainkan. Game-game tersebut memang jauh lebih canggih dibandingkan apa yang ada di era-80an, serta dapat melatih keterampilan anak karena membutuhkan kecekatan yang sangat tinggi. Namun, orangtua perlu waspada karena anak lebih mudah mengalami kecanduan karena bermain video game akan memberikan kepuasan secara psikologis. Video games ini meyebabkan kekerasan pada anak, karena anak disuguhi games yang tidak sesuai usianya.

Bermain games pada dasarnya bisa menghilangkan stress yang dialami oleh anak. Namun pemilihan jenis game harus tepat dan tidak boleh berlebihan. Orangtua juga harus berperan aktif dalam mengawasi anak setiap kali berperan aktif dalam mengawasi anak setiap kali bermain games. Jika berlebihan, maka video games itu akan memberikan  dampak negatif tidak hanya secara psikis, melainkan juga fisik.

Dampak negatif secara fisik yang dapat ditimbulkan oleh games adalah kejang lengan (repetitive strain injury) mengikis lutein pada retina mata, dan dapat mencetuskan ayan atau epilepsy (sesuai dengan apa yang disebut ayan games/Nintendo epilepsi). Lalu apa yang sebaiknya dilakukan agar games tidak memberikan  mudharat pada anak, tapi justru manfaat? Orangtua tidak boleh cuek dengan jenis games yang sedang dan akan dimainkan oleh anak-anaknya. Seringlah berdiskusi mengenal jenis games apa yang dimainkan oleh anak, dari mana ia dapatkan, serta apakah anak mengetahui dampak permainan tersebut. Selain itu, orangtua juga harus mengetahui rating atau peringkat dari video games tersebut.

Perlu adanya Rating yang tepat

Rating dari suatu video games adalah kelayakan game sesuai dengan rentang usia yang boleh memainkan game yang bersangkutan. Rating ini dikeluarkan oleh The Entertainment Software Rating Board (ESRB) yang pembagiannya adalah sebagai berikut : 3-10 tahun, semua umur, 10 tahun ke atas, 13 tahun ke atas, 17 tahun ke atas dan dewasa. Tanda rating dapat dilihat di sampul depan dan belakang video games. Penting sekali untuk mengetahui rating sebuah games, sebab banyak  video  games bajakan dengan harga terjangkau yang mudah ditemukan di pasaran. Namun ternyata ratingnya tidak sesuai dengan rating yang dikeluarkan ESRB sebenarnya.

Banyak pula video games ber-rating dewasa diubah menjadi untuk usia 13 tahun ke atas. Kekerasan anak yang terjadi terus-menerus bisa menyebabkan gangguan otak atau gangguan mental pada anak. Sumbernya bisa karena didirikan keras orangtua, tinggal dalam lingkungan yang tidak harmonis, hingga pembelajaran di sekolah yang melelahkan. Salah satu media pelepasan stres anak ialah menonton televise atau bermain video games namun sayangnya kekerasan anak justru muncul dari sana

Penutup

Demikian penjelasan singkat tentang artikel Media dan Games Penyumbang Kekerasan Pada Anak. Semoga artikel Media dan Games Penyumbang Kekerasan Pada Anak bisa menjadi referensi orang tua dalam mendidik anak. Terima Kasih

Artikel SebelumnyaKomunikasi dan Hubungan Terapeutik Keperawatan
Artikel SelanjutnyaAnemia atau Defisiensi Besi pada Anak
Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

1 KOMENTAR

  1. Benar sekali….kadang anak2 jg menirukan kata2 kasar yg ada di games.. sebagai ortu harus bisa mengontrol games yg dimainkan..🙏

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini