Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan

Cemas, siapa yang tidak pernah cemas, ini merupakan hal yang wajar pada diri kita, apalagi kita lagi dirundung masalah pasti akan menyebabkan rasa cemas pada diri.Namun kita harus hati-hati jika mengalami cemas yang berlebihan atau sering. Bisa jadi itu merupakan gangguan kecemasan. Maka dari itu mari kita simak artikel dari maimelajah.com yang berjudul Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan.

Cemas dalam bahasa latin anxius dan dalam bahasa Jerman angst kemudian menjadi anxiety yang berarti kecemasan, merupakan suatu kata yang dipergunakan oleh Freud untuk menggambarkan suatu efek negatif dan keterangsangan. Cemas mengandung arti pengalaman psikis yang biasa dan wajar, yang pernah dialami setiap orang dalam rangka memacu individu untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapi sebaik-baiknya.

Kecemasan adalah suatu keadaan emosional yang tidak menyenangkan, yang dapat saja memiliki sumber yang kurang jelas. Kecemasan juga merupakan suatu respon terhadap stres. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak penjelasan tentang Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan dibawah ini :

Faktor Predisposisi

Beberapa teori yang mengemukakan faktor pendukung (predisposisi) terjadinya kecemasan adalah :

  1. Teori psikoanalitik
    Kecemasan terjadi karena adanya konflik yang terjadi antara emosional elemen kepribadian yaitu id, ego dan super ego. Id mewakili insting, super ego mewakili hati nurani, sedangkan ego mewakili konflik yang terjadi antara kedua elemen yang bertentangan, dimana timbulnya merupakan upaya dalam memberikan bahaya pada elemen ego.
  2. Teori interpersonal
    Kecemasan timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal.
  3. Teori behaviour
    Kecemasan merupakan produk frustasi yaitu segala sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
  4. Teori perspektif keluarga
    Kajian keluarga menunjukkan pola interaksi yang terjadi didalam keluarga, kecemasan menunjukkan adanya interaksi yang tidak adaptif dalam sistem keluarga.
  5. Teori perspektif biologis
    Kesehatan umum seseorang menurut pandangan biologis merupakan faktor predisposisi timbulnya kecemasan.

Faktor Presipitasi

Beberapa faktor pencetus ( presipitasi ) yang menyebabkan terjadinya kecemasan adalah:

  1. Ancaman terhadap integritas biologi seperti :
    • Penyakit
      Berbagai penyakit fisik terutama yang kronis yang mengakibatkan invaliditas dapat menyebabkan stres pada diri seseorang, misalnya penyakit jantung, hati, kanker, stroke dan HIV/AIDS.
    • Trauma
    • Pembedahan
  2. Ancaman terhadap konsep diri seperti proses kehilangan, perubahan peran, perubahan lingkungan, perubahan hubungan dan status sosial ekonomi.

Tingkat Kecemasan

  1. Kecemasan ringan
    Kecemasan ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan sehari-hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan persepsinya. Kecemasan dapat memotivasi belajar dan menghasilkan pertumbuhan dan kreativitas.
  2. Kecemasan sedang
    Kecemasan sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang mengalami perhatian yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
  3. Kecemasan berat
    Kecemasan berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditunjukkan untuk mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
  4. Kecemasan sangat berat (panik)
    Bentuk kecemasan yang ekstrim, terjadi disorganisasi dan dapat membahayakan dirinya. Individu tidak dapat bertindak, agitasi atau hiperaktif. Kecemasan tidak dapat langsung dilihat, tetapi dikomunikasikan melalui perilaku klien/individu, seperti tekanan darah yang meningkat, nadi cepat, mulut kering, menggigil, sering kencing dan pening.

Tanda dan Gejala Kecemasan

Tanda dan gejala kecemasan secara umum meliputi gejala fisik, psikologis dan fisiologis. Gejala fisik pada tingkat kecemasan ringan meliputi gemetaran, ketegangan otot, napas pendek, hiperventilasi, dan mudah lelah. Gejala fisik pada tingkat kecemasan sedang yaitu sering kaget, hiperaktivitas autonomik, wajah merah dan pucat. Gejala fisik pada tingkat kecemasan berat adalah takikardi, napas pendek, hiperventilasi, berpeluh, dan tangan terasa dingin, sedangkan pada tingkat panik (kecemasan sangat berat), gejala fisik yang muncul adalah diare, mulut kering, sering kencing, kesemutan pada kaki dan tangan, serta sulit menelan

Gejala psikologis yang muncul saat cemas meliputi khawatir, firasat buruk, takut akan pikiran sendiri, mudah tersinggung, merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut, sulit konsentrasi, siaga berlebihan, takut sendirian, takut pada keramaian dan orang banyak. Gejala lain yaitu gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan, gangguan konsentrasi dan daya ingat, libido menurun, rasa mengganjal di tenggorokan, dan rasa mual di perut.

Gejala fisiologis kecemasan terjadi pada beberapa sistem dalam tubuh. Gejala pada sistem kardiovaskular yaitu palpitasi, jantung berdebar, tekanan darah meninggi, rasa ingin pingsan, pingsan, tekanan darah menurun, denyut nadi menurun. Gejala pada sistem pernapasan adalah napas cepat, napas pendek, tekanan pada dada, napas dangkal, pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah. Gejala pada sistem neuromuskular yaitu tremor, refleks meningkat, rigiditas (merasa dingin), gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, kaki goyah. Gejala pada sistem gastrointestinal adalah kehilangan nafsu makan, rasa tidak nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar pada jantung, diare. Gejala pada sistem traktus urinarius yaitu sering berkemih dan tidak dapat menahan kencing,  sedangkan pada sistem integumen (kulit) terjadi rasa panas dan dingin pada kulit, wajah kemerahan, berkeringat setempat (telapak tangan), gatal, wajah pucat, dan berkeringat seluruh tubuh.

Faktor yang Mempengaruhi Tingkat Kecemasan

Tingkat kecemasan dipengaruhi oleh beberapa faktor meliputi hal berikut: 

  1. Potensi stresor
    Stresor psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan dalam kehidupan seseorang, sehingga orang itu terpaksa mengadakan adaptasi atau penyesuaian diri untuk menanggulanginya.
  2. Maturasi (kematangan)
    Individu yang matang yaitu yang memiliki kematangan kepribadian sehingga akan lebih sukar mengalami gangguan akibat stres, sebab individu yang matang mempunyai daya adaptasi yang besar terhadap stresor yang timbul. Sebaliknya individu yang berkepribadian tidak matang akan bergantung dan peka terhadap rangsangan sehingga sangat mudah mengalami gangguan akibat adanya stres.
  3. Status pendidikan
    Status pendidikan dan status ekonomi yang rendah pada seseorang menyebabkan orang tersebut mengalami stres dibanding dengan mereka yang status pendidikan dan status ekonomi yang tinggi.
  4. Tingkat pengetahuan
    Tingkat pengetahuan yang rendah pada seseorang akan menyebabkan orang tersebut mudah stress.
  5. Keadaan fisik
    Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cidera, penyakit badan, operasi, cacat badan lebih mudah mengalami stres. Disamping itu orang yang mengalami kelelahan fisik juga akan lebih mudah mengalami stres.
  6. Tipe kepribadian
    Individu dengan tipe kepribadian tipe A lebih mudah mengalami gangguan akibat adanya stres dari individu dengan kepribadian B. Ciri-ciri individu dengan kepribadian A adalah tidak sabar, kompetitif, ambisius, ingin serba sempurna, merasa buru-buru waktu, sangat setia ( berlebihan ) terhadap pekerjaan, agresif, mudah gelisah, tidak dapat tenang dan diam, mudah bermusuhan, mudah tersinggung, otot-otot mudah tegang. Sedangkan individu dengan kepribadian tipe B mempunyai ciri-ciri yang berlawanan dengan individu kepribadian tipe A.
  7. Sosial budaya
    Cara hidup individu di masyarakat yang sangat mempengaruhi pada timbulnya stres. Individu yang mempunyai cara hidup sangat teratur dan mempunyai falsafat hidup yang jelas maka pada umumnya lebih sukar mengalami stres. Demikian juga keyakinan agama akan mempengaruhi timbulnya stres.
  8. Lingkungan atau situasi
    Individu yang tinggal pada lingkungan yang dianggap asing akan lebih mudah mangalami stres.
  9. Usia
    Ada yang berpendapat bahwa faktor usia muda lebih mudah mengalami stres dari pada usia tua, tetapi ada yang berpendapat sebaliknya.
  10. Jenis kelamin
    Umumnya wanita lebih mudah mengalami stres, tetapi usia harapan hidup wanita lebih tinggi dari pada pria.

Alat Ukur Tingkat Kecemasan

Alat untuk mengetahui tingkat kecemasan adalah denagn menggunakan alat ukur (instrumen) yang dikenal dengan nama HRSA (Hamilton Rating Scale for Anxiety). Alat ukur ini terdiri dari beberapa kelompok gejala yang masing-masing kelompok dirinci dengan gejala-gejala yang lebih spesifik. Masing-masing kelompok gejala diberi penilaian angka (score) antara 0-4, yang artinya nilai 0 (tidak ada gejala atau keluhan), nilai 1 (gejala ringan), nilai 2 (gejala sedang), nilai 3 (gejala berat), nilai 4 (gejala sangat berat). Masing- masing nilai angka (score) dari kelompok gejala tersebut dijumlahkan dan dari hasil penjumlahan tersebut dapat diketahui tingkat kecemasan

Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan

Penutup

Demikian penjelasan tentang artikel Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan. Terima Kasih

Unduh Materi

Materi pada artikel Kecemasan dan Pengukuran Kecemasan juga dapat diunduh pada link berikut ini : cemas.doc

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: