Sejarah Perawat Florence Nightingale

Pada jaman dahulu perawat hanya istilah bagi perempuan yang memiliki naluri keibuan atau yang merawat orang yang sedang sakit. Namun pada abad ke-18 saat perang Krimea terjadi, muncul sosok perempuan bernama Florence Nightingale yang merupakan perintis ilmu keperawatan modern merupakan penulis dan ahli statistik. Ia juga pernah menulis buku Notes on Nursing yang berisi catatan lengkap ilmu keperawatan, yang kemudian menjadi buku panduan di sekolah keperawatan dunia. Florence dikenal dengan nama “The Lady With The Lamp”. Berikut Sejarah Perawat Florence Nightingale yang diakui sebagai perawat terbaik dalam sejarah dunia dalam artikel maimelajah.com

Kelahiran Florence Nightingale

Sejarah Perawat Florence Nightingale

Sejarah Perawat Florence Nightingale dimulai di Florence, Italia, kota yang mengilhami namanya lahir pada 12 Mei 1820. Ia adalah anak terakhir dari dua bersaudara dan merupakan bagian dari klan Inggris kaya yang termasuk dalam lingkaran sosial elite. Semasa kecilnya ia tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah milik ayahnya, William Nightingale yang merupakan seorang tuan tanah kaya di Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya adalah keturunan ningrat dan keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang. Florence Nightingale memiliki seorang saudara perempuan bernama Parthenope. Pada masa remaja mulai terlihat perilaku mereka yang kontras dan Parthenope hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah. Pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktivitasnya cenderung bersenang-senang saja dan malas, sementara Florence lebih banyak keluar rumah dan membantu warga sekitar yang membutuhkan.

Keinginan menjadi perawat

Berasal dari keluarga dengan status sosial tinggi, Florence Nightingale dibimbing dengan baik oleh keluarganya di bidang bahasa, matematika, dan sejarah. Namun siapa sangka puteri keluarga bangsawan itu ingin melakukan tugas mulia menjadi seorang perawat. Keinginan ini tumbuh ketika ia berlibur ke Jerman pada tahun 1840-an, saat itu ia bertemu dengan biarawati Lutheran yang bertugas di sebuah rumah sakit milik Pendeta. Ia kagum kepada para biarawati yang memiliki jiwa sosial yang tinggi untuk membantu banyak orang.

Florence kemudian menyampaikan keinginannya untuk menjadi seorang perawat kepada keluarganya. Tetapi ia tidak mendapat sambutan yang baik, hal tersebut lantaran pada masa itu, keadaan rumah sakit tidak seperti sekarang ini. Kebanyakan rumah sakit zaman itu memiliki lingkungan yang kotor. Para perawat kala itu pun mayoritas adalah para wanita penghibur, pemabuk, dan sama sekali tidak memiliki keahlian secara medis. Dalam pandangan keluarga Florence, tidak ada satupun wanita terhormat yang berpikir untuk menjadi seorang perawat. Pada tahun 1851, kala menginjak usia 31 tahun, ia dilamar oleh Richard Monckton Milnes seorang penyair dan seorang ningrat (Baron of Houghton), lamaran inipun ia tolak karena pada tahun itu ia sudah membulatkan tekad untuk mengabdikan dirinya pada dunia keperawatan.

Belajar dari awal

Argumentasi Florence bahwa di  Jerman perawatan bisa dilakukan dengan baik tanpa merendahkan profesi perawat, karena saat itu di Jerman perawat juga biarawati Katolik yang sudah disumpah untuk tidak menikah dan hal ini juga secara langsung melindungi mereka dari perlakuan yang tidak hormat dari pasiennya.

Walaupun ayahnya setuju bila Florence membaktikan diri untuk kemanusiaan, tetapi ia tidak setuju bila Florence menjadi perawat di rumah sakit. Ia tidak dapat membayangkan anaknya bekerja di tempat yang menjijikkan. Ia menganjurkan agar Florence pergi berjalan-jalan keluar negeri untuk menenangkan pikiran.

Walaupun ditentang oleh keluarganya, ternyata keinginan Florence untuk menjadi perawat tak hanya isapan jempol saja. Menyadur dari salah satu sumber, pada 1845, ia mulai mengunjungi banyak rumah sakit dan fasilitas-fasilitas kesehatan untuk mengumpulkan informasi. Lalu pada 1851, ketika sedang berkunjung ke Jerman, Florence mengikuti pelatihan perawat di Institut Diaken Protestan di Kaiserwerth, setelah mendesak kedua orangtuanya.

Membenahi standar kelayakan rumah sakit

Pada tanggal 12 Agustus 1853, Nightingale kembali ke London dan mendapat pekerjaan sebagai pengawas bagian keperawatan di Institute for the Care of Sick Gentlewomen, sebuah rumah sakit kecil yang terletak di Upper Harley Street, London, posisi yang ia tekuni hingga bulan Oktober 1854. Ayahnya memberinya ₤500 per tahun (setara dengan ₤ 25,000 atau Rp. 425 juta pada masa sekarang), sehingga Florence dapat hidup dengan nyaman dan meniti kariernya.

Di sini ia beragumentasi sengit dengan Komite Rumah Sakit karena mereka menolak pasien yang beragama Katolik. Florence mengancam akan mengundurkan diri, kecuali bila komite ini mengubah peraturan tersebut dan memberinya izin tertulis bahwa rumah sakit akan menerima tidak saja pasien yang beragama Katolik, tetapi juga Yahudi dan agama lainnya, serta memperbolehkan mereka menerima kunjungan dari pendeta-pendeta mereka, termasuk rabi, dan ulama untuk orang Islam. Komite Rumah Sakit pun mengubah peraturan tersebut sesuai permintaan Florence.

Mendapat julukan The Lady With Lamp

Pada suatu kali, saat pertempuran dahsyat di luar kota telah berlalu, seorang bintara datang dan melapor pada Florence bahwa dari kedua belah pihak korban yang berjatuhan banyak sekali. Florence menanti rombongan pertama, tetapi ternyata jumlahnya sedikit, ia bertanya pada bintara tersebut apa yang terjadi dengan korban lainnya. Bintara tersebut mengatakan bahwa korban selanjutnya harus menunggu sampai besok karena sudah terlanjur gelap. Florence memaksa bintara tersebut untuk mengantarnya ke bekas medan pertempuran untuk mengumpulkan korban yang masih bisa diselamatkan karena bila mereka menunggu hingga esok hari korban-korban tersebut bisa mati kehabisan darah. Saat bintara tersebut terlihat enggan, Florence mengancam akan melaporkannya kepada Mayor Prince. Berangkatlah mereka berenam ke bekas medan pertempuran, semuanya pria, hanya Florence satu-satunya wanita. Florence dengan berbekal lentera membalik dan memeriksa tubuh-tubuh yang bergelimpangan, membawa siapa saja yang masih hidup dan masih bisa diselamatkan, termasuk prajurit Rusia.

Malam itu mereka kembali dengan membawa lima belas prajurit, dua belas prajurit Inggris dan tiga prajurit Rusia. Semenjak saat itu setiap terjadi pertempuran, pada malam harinya Florence berkeliling dengan lampu untuk mencari prajurit-prajurit yang masih hidup dan mulailah ia terkenal sebagai bidadari berlampu yang menolong di gelap gulita. Banyak nyawa tertolong yang seharusnya sudah meninggal. Selama perang Krimea, Florence Nightingale mendapatkan nama “Bidadari Berlampu”.  Pada tahun 1857 Henry Longfellow, seorang penyair AS, menulis puisi tentang Florence Nightingale berjudul “Santa Filomena”, yang melukiskan bagaimana ia menjaga prajurit-prajurit di rumah sakit tentara pada malam hari, sendirian, dengan membawa lampu. “Pada jam-jam penuh penderitaan itu, datanglah bidadari berlampu untukku”

Sejarah Sekolah Keperawatan Florence Nightingale

Sejarah Perawat Florence Nightingale menyebutkan ketika ia masih di Turki, pada tanggal 29 November 1855, publik bertemu untuk memberikan pengakuan pada Florence Nightingale untuk hasil kerjanya pada perang yang membuat didirikannya Dana Nightingale untuk pelatihan perawat. Sidney Herbert menjadi sekretaris honorari dana, dan Adipati Cambridge menjadi ketua. Sekembalinya Florence ke London, ia diundang oleh tokoh-tokoh masyarakat. Mereka mendirikan sebuah badan bernama “Dana Nightingale”, di mana Sidney Herbert menjadi Sekretaris Kehormatan dan Adipati Cambridge menjadi Ketuanya. Badan tersebut berhasil mengumpulkan dana yang besar sekali sejumlah ₤ 45.000 sebagai rasa terima kasih orang-orang Inggris karena Florence Nightingale berhasil menyeamatkan banyak jiwa dari kematian.

Florence menggunakan uang itu untuk membangun sebuah sekolah perawat khusus untuk wanita yang pertama, saat itu bahkan perawat-perawat pria pun jarang ada yang berpendidikan. Florence berargumen bahwa dengan adanya sekolah perawat, maka profesi perawat akan menjadi lebih dihargai, ibu-ibu dari keluarga baik-baik akan mengizinkan anak-anak perempuannya untuk bersekolah di sana dan masyarakat akan lain sikapnya menghadapi seseorang yang terdidik.

Sekolah tersebut pun didirikan di lingkungan rumah sakit St. Thomas Hospital, London. Dunia kesehatan pun menyambut baik pembukaan sekolah perawat tersebut. Saat dibuka pada tanggal 9 Juli 1860 berpuluh-puluh gadis dari kalangan baik-baik mendaftarkan diri, perjuangan Florence di Semenanjung Krimea telah menghilangkan gambaran lama tentang perempuan perawat. Dengan didirikannya sekolah perawat tersebut telah diletakkan dasar baru tentang perawat terdidik dan dimulailah masa baru dalam dunia perawatan orang sakit. Kini sekolah tersebut dinamakan Sekolah Perawat dan Kebidanan Florence Nightingale (Florence Nightingale School of Nursing and Midwifery) dan merupakan bagian dari Akademi King College London. Sebagai pimpinan sekolah Florence mengatur sekolah itu dengan sebaik mungkin. Tulisannya mengenai dunia keperawatan dan cara mengaturnya dijadikan bahan pelajaran di sekolah tersebut.

Saat tiba waktunya anak-anak didik pertama Florence menamatkan sekolahnya, berpuluh-puluh tenaga habis diambil oleh rumah sakit sekitar, padahal rumah sakit yang lain banyak meminta bagian.Perawat lulusan sekolah Florence pertama kali bekerja pada Rumah Sakit Liverpool Workhouse Infirmary. Ia juga berkampanye dan menggalang dana untuk rumah sakit Royal Buckinghamshire di Aylesbury dekat rumah tinggal keluarganya.Dengan perawat-perawat terdidik, era baru perawatan secara modernpun diterapkan ditempat-tempat tersebut.

Dunia menjadi tergugah dan ingin meniru. Mereka mengirimkan gadis-gadis berbakat untuk dididik di sekolah tersebut dan sesudah tamat mereka diharuskan mendirikan sekolah serupa di negerinya masing-masing. Pada tahun 1882 perawat-perawat yang lulus dari sekolah Florence telah tumbuh dan mengembangkan pengaruh mereka pada awal-awal pengembangan profesi keperawatan. Beberapa dari mereka telah diangkat menjadi perawat senior (matron), termasuk di rumah sakit-rumah sakit London seperti St. Mary’s Hospital, Westminster Hospital, St Marylebone Workhouse Infirmary dan the Hospital for Incurables (Putney); dan diseluruh Inggris, seperti: Royal Victoria Hospital, Netley; Edinburgh Royal Infirmary; Cumberland Infirmary; Liverpool Royal Infirmary dan juga di Sydney Hospital, di New South Wales, Australia. Orang sakit menjadi pihak yang paling beruntung di sini, disamping mereka mendapatkan perawatan yang baik dan memuaskan, angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Buku dan buah pikiran Florence Nightingale menjadi sangat bermanfaat dalam hal ini. Beberapa hal yang dilakukan Florence saat masih berkarier yaitu :

  • Pada tahun 1860 Florence menulis buku Catatan tentang Keperawatan (Notes on Nursing) buku setebal 136 halaman ini menjadi buku acuan pada kurikulum di sekolah Florence dan sekolah keperawatan lainnya. Buku ini juga menjadi populer di kalangan orang awam dan terjual jutaan eksemplar di seluruh dunia.
  • Pada tahun 1861 cetakan lanjutan buku ini terbit dengan tambahan bagian tentang perawatan bayi.
  • Pada tahun 1869, Nightingale dan Elizabeth Blackwell mendirikan Universitas Medis Wanita.
  • Pada tahun 1870-an, Linda Richards, “perawat terlatih pertama Amerika”, berkonsultasi dengan Florence Nightingale di Inggris, dan membuat Linda kembali ke Amerika Serikat dengan pelatihan dan pengetahuan memadai untuk mendirikan sekolah perawat. Linda Richards menjadi pelopor perawat di Amerika Serikat dan Jepang.
  • Pada tahun 1883 Florence dianugerahkan medali Palang Merah Kerajaan (The Royal Red Cross) oleh Ratu Victoria.
  • Pada tahun 1907 pada umurnya yang ke 87 tahun Raja Inggris, di hadapan beratus-ratus undangan menganugerahkan Florence Nightingale dengan bintang jasa The Order Of Merit dan Florence Nightingale menjadi wanita pertama yang menerima bintang tanda jasa ini.
  • Pada tahun 1908 ia dianugerahkan Honorary Freedom of the City dari kota London.
  • Nightingale adalah seorang anggota Gereja Anglikan Inggris.  Pada tanggal 7 Februari 1837 – tidak lama sebelum ulang tahunnya ke-17 – sesuatu terjadi yang akan mengubah hidupnya: ia menulis, “Tuhan berbicara padaku dan memanggilku untuk melayani-Nya.”

Akhir Kehidupan “The Lady With The Lamp

Florence Nightingale meninggal dunia di usia 90 tahun pada tanggal 13 Agustus 1910. Keluarganya menolak untuk memakamkannya di Westminster Abbey, dan ia dimakamkan di Gereja St. Margaret yang terletak di East Wellow, Hampshire, Inggris.

Penutup

Demikian artikel tentang salah satu Perawat terbaik dunia pada artikel yang berjudul Sejarah Perawat Florence Nightingale. Terima kasih sudah mampir dan membaca artikel Sejarah Perawat Florence Nightingale. Dan jangan lupa untuk selalu mengikuti artikel-artikel kami yang lainnya.

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

5 tanggapan untuk “Sejarah Perawat Florence Nightingale

  1. Ꮇy brother suggested І might like thiѕ blog. He was once entirely
    right. This post truly made my day. You can not consider sіmply how so
    much time I had spent for this infoгmation! Tһаnk you!

  2. I have to get across my admiration for your generosity supporting persons who really want assistance with the area. Your very own dedication to getting the message all over has been extraordinarily functional and has in every case enabled ladies like me to reach their endeavors. Your new helpful publication signifies a great deal to me and far more to my colleagues. With thanks; from each one of us.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: