Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak

Topik kali ini maimelajah.com akan membahas tentang Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak. Menurut dokter spesialis anak bagian nutrisi dan penyakit metabolic ada banyak factor risiko yang menyebabkan terjadinya anemia pada anak

Faktor Penyebab Anemia

  • Karena adanya masalah yang timbul mulai pada masa kehamilan
  • Bayi lahir premature
  • Pemberian ASI  dan bukan ASI yang tidak tepat
  • Adanya perubahan pola makan dan kebutuhan jenis makanan
  • Factor ekonomi dan bisa juga karena menderita sakit tertentu.

Masalah yang timbul pada masa kehamilan biasanya terjadi karena nutrisi ibu yang tidak baik dan mengalami anemia. Bayi yang lahir premature pun berisiko untuk terjadinya anemia lebih tinggi. Hal itu dikarenakan kondisi tubuhnya yang lebih kecil dan bayi tersebut membutuhkan banyak asupan nutrisi.

Bayi yang lahir kembar, memiliki risiko anemia lebih tinggi. Dimana cadangan zat besi yang ada pada ibunya harus dibagi, hal ini menyebabkan defisiensi besi.

Risiko anemia yang terkait dengan asupan makanan

  • Meminum Susu sapi sebelum usia satu tahun
  • Susu sapi lebih dari 750ml/hari
  • Mengkonsumsi formula yang kandungan zat besinya rendah
  • Tidak mendapat suplementasi zat besi yang cukup setelah 6 bulan.

Pemberian ASI cegah Anemia

Pemberian ASI dan non ASI seperti susu formula jika tidak diberikan dengan tepat bisa membuat bayi mengalami anemia. Untuk itu pada bayi yang mendapat ASI eksklusif dan berusia 4 bulan ke atas maka bayi mulai mendapat zat gizi tambahan berupa suplemen zat besi. Pada bayi yang sudah berusia 6 bulan keatas mulai memerlukan tambahan makanan bayi yaitu makanan pendamping ASI untuk menghindari kecukupan gizinya dan mencegah terjadinya anemia. Namun sayangnya, jika perekonomian orangtua tidak mencukupi maka akan menimbulkan masalah dalam pemberian asupan makanan terutama yang mengandung zat besi. Selain itu pada bayi dan balita yang memiliki sakit tertentu terutama sakit kronis, juga bisa menyebabkan terjadinya anemia, misalnya sakit infeksi TB, peradangan pada saluran kemih, cacingan dan infeksi kronis lainnya.

Tanda & Gejala Anemia

Tanda dan gejala awal anak yang baru mengalami anemia biasanya tidak terlihat dan disadari. Namun jika anak sudah mengalami pucat pada wajah dan tubuhnya, maka anak tersebut sudah mengalami anemia akan mengalami lemas, letih, lesu, tidak nafsu makan dan malas minum. Sedangkan, berdasarkan pemeriksaan kadar hemoglobin, anak yang mengalami anemia maka kadar hemoglobinnya sudah dibawah 10g/dl.

Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak
Tabel : kadar hemoglobin normal pada anak

Anemia defisiensi besi dan asam folat

Salah satu contoh penelitian jika anak yang mengarah pada defisiensi besi maka kepandaian atau kemampuan psikomotornya sudah terpengaruh yaitu mulai berkurang bahkan pada anemia ringan saja kemampuan psikomotornya sudah turun sekitar 15-20 point.

Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak
Tabel : Jumlah Zat Besi yang dibutuhkan anak

Sumber Zat Besi

Sumber zat besi berasal dari golongan hem dan non hem. Golongan hem adalah daging sapi, jeroan (hati, ginjal, jantung), domba, ikan atau seafood, ayam, kalkun. Langsung diserap tubuh sekitar 23 % dari makanan yang dikonsumsi. Sedangkan sumber zat besi dari golongan non hem adalah sayuran berdaun hijau gelap. Seperti Sayur bayam dan sawi. Buah seperti kismis dan apricot. Biji-bijian serealia. Namun dapat diserao tubuh hanya 3-8 % dari makanan yang dikonsumsi.

Jika melihat dari angka yang diserap tubuh maka tidak dianjurkan untuk mendapatkan zat besi dari sayuran saja. Tetapi juga harus mengkonsumsi zat besi dari golongan hem. Hal ini perlu diketahui agar dalam memilih bahan makanan diberikan secara lengkap dan seimbang. Meskipun ada banyak zat besi yang bisa diperoleh baik dari golongan hem dan non hem, namun jangan lupa untuk mengetahui bahan makanan yang membantu penyerapan zat besi.

Bahan makanan yang membantu penyerapan zat besi

  1. Vitamin C (sangat membantu penyerapan zat besi non-heme, contoh brokoli, tomat, jus tomat, jeruk stroberi)
  2. Golongan organic lainnya yaitu asam laktat, tartrat, malat, dan asam sitrat juga membantu meningkatkan penyerapan zat besi
  3. Golongan daging, ikan dan unggas : banyak mengandung zat besi heme yang sangat mudah diserap dan dapat membantu penyerapan zat besi non-heme dari sumber lainnya.

Bahan makanan yang menghambat penyerapan besi

1. Golongan polifenol :

Beberapa sayuran, buah, kopi, the dan bumbu-bumbu seperti bawang merah, cabai, paprika dan kunyit

2. Golongan asam fitat :

Gandum utuh, nasi, kacang-kacangan, kedelai dan produknya. Sedikit saja asam fitat (5-10mg) dapat menurunkan penyerapan besi non-heme sampai 50%.

3. Golongan asam oksalat :

Golongan ini sangat mudah berikatan dengan zat besi. Contoh : ubi manis, bit, wortel, kacang tanah, kopi, cokelat dsb.

Selain mengalami anemia defisiensi besi. Anak – anak juga bisa mengalami defisiensi asam folat yang bisa menyebabkan sariawan, gangguan pertumbuhan dan gangguan penutupan sel saraf dimana bisa menjadi salah satu factor terjadinya celah langit-langit dan celah bibir pada anak-anak. Untuk itu selain membutuhkan zat besi untuk mencegah terjadinya anemia karena defisiensi asam folat maka anak – anak membutuhkan asupan yang mengandung asam folat.

Kebutuhan asam folat memiliki satuan mikro gram per hari. Namun karena kecilnya kebutuhan akan asam folat tidak ada ketentuan berapa angka kebutuhannya pada anak – anak, kecuali bagi anak yang mengalami gizi buruk maka kebutuhan akan asam folatnya mencapai satu mikro gram perhari. Makanan yang mengandung asam folat adalah asparagus, kuning telur, bayam, golongan kacang-kacangan yaitu kacang merah dan legume. Lalu buah-buahan tertentu seperti jeruk, melon, pisang, anggur dan stroberi. Sedangkan yang menghambat penyerapan asam folat adalah vitamin B12 dan obat-obatan khusus seperti obat kanker.

Suplemen zat besi & gizi seimbang

Untuk mendiagnosis anak yang mengalami anemia. Baik karena defisiensi zat besi maupun asam folat dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis. Yaitu melihat kondisi anak misalnya terlihat pucat dan lemah, jika sudah parah maka akan terlihat pucat dan lemah, jika sudah parah maka akan terlihat seperti akan pingsan. Kemudian pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar hemoglobinnya. Jika hasil dibawah 10 anak sudah dikatakan menderita anemia.

Penanganan mengatasi anemia defisiensi besi dan asam folat pada anak

Adalah dengan memberikan asupan makanan yang mengandung zat besi dan asam folat atau bahkan memberikan suplemen zat besi. Suplemen zat besi diberikan kepada anak yang mengalami anemia berat. Untuk penderita anemia yang ringan, dengan memberikan makanan yang memang dibutuhkan. Selain itu pengaturan makanan juga disesuaikan dengan berat badan anak. Namun yang pasti pengaturan dan pemilihan makanan dengan penerapan gizi seimbang antara karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral, terdapat 55-60% karbohidrat dan 20-30% lemak dan sisanya protein.

Penutup

Demikian Penjelasan singkat mengenai Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak. Terima Kasih

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Anemia atau Defisiensi Besi pada Anak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: