Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia Pada Ibu Hamil terjadi hampir 70% pada kasus kehamilan, apa itu anemia pada ibu hamil? Apa penyebabnya? mari kita simak di maimelajah.com ya!

Anemia Pada Ibu Hamil

1. Definisi Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia adalah keadaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang dari normal (Kasdu, 2005). Penyebab anemia gizi adalah ketidakseimbangan antara konsumsi bahan makanan sumber zat besi yang masuk dalam tubuh dengan meningkatnya kebutuhan tubuh akan zat besi (Kasdu, 2005).   Anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar Hb di bawah 11gr% pada trimester I dan III atau kadar Hb kurang dari 10,5gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002).

Anemia gizi di Indonesia dapat di temukan di semua kelompok umur dan setiap lapisan masyarakat, baik pada tingkat sosial ekonomi rendah maupun tinggi. Anemia gizi yang sering di temukan adalah anemia defisiensi besi. Prevalensi anemia defisiensi besi sering di temukan pada anak pra sekolah, usia sekolah, ibu hamil dan menyusui serta pekerja berpenghasilan rendah (Depkes RI, 1998).

2. Etiologi Anemia Pada Ibu Hamil

Anemia pada umumnya di sebabkan oleh kurang gizi pada umumnya terutama kekurangan zat besi, vitamin B12 dan asam folat. Selain itu anemia juga disebabkan karena malabsorbsi atau gangguan penyerapan zat besi dalam usus kurang baik, kehilangan darah yang banyak pada persalinan, haid dan lain-lain sehingga sel darah merah banyak yang hilang akibatnya kadar Hb turun. Penyakit kronis, TBC paru, cacing usus dan malaria juga merupakan penyebab terjadinya anemia karena dapat menyebabkan terjadinya peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya produksi eritrosit (Wiknjosastro, 1999). Bentuk anemia yang banyak ditemukan dalam kehamilan yaitu anemia defisiensi besi (Wiknjosastro, 1999).

Secara garis besar yang menyebabkan terjadinya anemia defisiensi besi menurut Early (1997) juga hampir sama dengan anemia pada umumnya yaitu:

  1. Penyerapan zat makanan yang terganggu akibat fungsi saluran pencernaan yang terganggu.
  2. Kesalahan dalam susunan menu makanan.
  3. Intake yang kurang mengandung zat besi, dapat diperoleh dari makanan dan suplemen.
  4. Kebutuhan zat besi yang meningkat dalam kehamilan.
  5. Kemampuan organ untuk menampung zat besi menurun.
  6. Adanya penyakit-penyakit kronis (TBC, paru, cacing usus, malaria, dan lain-lain).

Perkiraan jumlah zat besi yang diperlukan selama hamil adalah 1040 mg. Dari jumlah ini, 200 mg Fe tertahan oleh tubuh ketika melahirkan dan 840 mg sisanya hilang. Sebanyak 300 mg Fe di transfer ke janin, dengan rincian 50-75 mg untuk pembentukan plasenta, 450 mg untuk menambah jumlah sel darah merah dan 200 mg hilang ketika melahirkan (Arisman, 2004).

3. Patofisiologi

Sirkulasi darah ibu dalam kehamilan dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Meningkatnya kebutuhan sirkulasi darah sehingga dapat memenuhi kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan janin.
  2. Terjadinya hubungan langsung antara arteri dan vena pada sirkulasi retroplasenter.
  3. Hormon estrogen dan progesteron semakin meningkat, sehingga akibat faktor itu di jumpai perubahan peredaran darah.
  4. Volume darah makin menungkat dimana jumlah serum darah lebih besar dari pertumbuhan sel darah, sehingga terjadi semacam pengenceran darah (Hemodilusi).
  5. Sel darah merah semakin meningkat jumlahnya, tetapi pertambahan sel darah tidak seimbang dengan peningkatan volume darah, sehingga terjadi hemodilusi yang disertai anemia fisiologis. Sel darah putih meningkat mencapai jumlah sebesar 10.000/ml, protein darah dalam bentuk albumin dan hemoglobin dapat menurun pada triwulan I sedangkan fibrinogen meningkat (Wiknjosastro, 1999). Sirkulasi darah ibu juga dipengaruhi oleh adanya sirkulasi ke plasenta, uterus yang membesar dengan pembuluh-pembuluh darah yang membesar pula, mammae dan alat genitalia lainnya yang memang berfungsi berlebihan dalam kehamilan sehingga volume darah ibu dalam kehamilan bertambah (hipervolemia) secara fisiologis dengan adanya pancaran darah yang disebut Hidremia. Akan tetapi bertambahnya sel-sel darah, kurang di banding dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi pengenceran darah. Pertambahan tersebut berbanding sebagai berikut: Plasma 30%, Sel darah 18%, Hb 19%.

Pengenceran darah dianggap sebagai penyesuaian diri secara fisiologis dalam kehamilan dan bermanfaat bagi wanita. Pertama-tama pengenceran meringankan beban jantung yang harus bekerja lebih berat dalam masa hamil. Karena sebagai akibat hidremia cardiac output meningkat. Kerja jantung lebih ringan apabila viskositas darah rendah. Resistensi perifer berkurang pula, sehingga tekanan darah tidak naik. Kedua, pada perdarahan waktu persalinan, banyaknya unsur besi yang hilang lebih sedikit dibandingkan dengan apabila darah itu tetap kental. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah mulai sejak umur 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu. Setelah 12 sampai 24 jam pasca persalinan terjadi peningkatan volume plasma, karena proses imbibisi cairan dari ekstravaskuler kedalam pembuluh darah yang kemudian akan diikuti oleh periode diuresis pasca persalinan yang mengakibatkan terjadinya penurunan volume plasma (adanya hemokonsentrasi). Dua minggu pasca persalinan merupakan periode penyesuaian untuk kembali ke nilai volume plasma seperti sebelum hamil (Wiknjosastro, 1999).

Pada kehamilan relatif terjadi anemia karena darah ibu hamil mengalami hemodilusi (pengenceran) dengan peningkatan volume 30% sampai 40% yang puncaknya pada kehamilan 32 sampai 34 minggu. Jumlah peningkatan sel darah 18% sampai 30%, dan hemoglobin sekitar 19%. Apabila hemoglobin ibu sebelum hamil sekitar 11gr% maka dengan terjadinya hemodilusi akan mengakibatkan anemia hamil fisiologis, dan Hb ibu akan menjadi 9,5 sampai 10gr%. Anemia fiologis dalam kehamilan terjadi karena dalam kehamilan keperluan zat-zat makanan bertambah dan terjadi pola perubahan dalam volume darah yaitu bertambah banyak, tetapi penambahan volume darah tidak disertai dengan penambahan sel-sel darah, akibatnya terjadi pengenceran darah sehingga kadar hemoglobin turun (Cunningham,1995).

Sedangkan anemia ibu hamil yang tidak fisiologis terjadi karena anemia defisiensi besi

Sedangkan anemia ibu hamil yang tidak fisiologis terjadi karena anemia defisiensi besi yaitu bila terdapat perbedaan antara jumlah zat besi simpanan yang tersedia pada ibu dan kebutuhan zat besi dalam kehamilan normal. Zat besi merupakan salah satu zat gizi pembentuk hemoglobin, bila zat besi kurang maka kadar Hb akan turun yang menyebabkan transportasi oksigen ke jaringan terganggu sehingga timbul tanda dan gejala anemia. Sedangkan pada anemia karena gangguan penyerapan adalah zat gizi yang masuk ke usus tidak diserap sempurna karena penyakit usus atau faktor lain misalnya makan bersamaan dengan minum the, susu atau kopi. Pada anemia karena banyaknya zat besi keluar dari tubuh misalnya perdarahan adalah sel darah merah turun menyebabkan kadar Hb turun sehingga terjadi gangguan transport oksigen dan hipoksia jaringan serta timbul gejala dan tanda anemia (Gibson, 1996).

4. Tanda dan Gejala Anemia

Menurut Depkes RI (1998) gejala-gejala yang dapat dirasakan pada anemia defisiensi besi meliputi 5L (Lemah, Letih Lesu Lelah, Lalai), pusing, mata berkunang-kunang dan nafsu makan menurun. Gejala tersebut muncul karena suplai oksigen ke jaringan berkurang sehingga metabolisme didalam sel tidak sempurna. Sedangkan tanda yang dapat ditemukan adalah kelopak mata, bibir, lidah, kulit dan telapak tangan menjadi pucat yang disebabkan oleh sel darah merah hipokromik atau warna lebih muda dari warna normal yaitu merah.

Jika hemoglobin turun menjadi 7gr% juga didapatkan nyeri tulang  dan abdomen karena disebabkan oleh kritis trombosis yang menyertai sel sabit (Prawirohardjo,1999). Tanda khas anemia menurut Arisman (2004) berupa anguler stomastitis, glositis, disfagia, hipoklorida, koilonikia dan paghofagia. Sedangkan tanda yang kurang khas berupa kelelahan, anoreksia, kepekaan terhadap infeksi meningkat, kelainan perilaku tertentu, kinerja intekektual serta kemampuan kerja menurun.

5. Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan

Menurut Wiknjosastro (2002) anemia dalam kehamialan dapat diklasifikasikan menjadi lima yaitu:

  1. Anemia defisiensi besi Anemia yang disebabkan akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini dapat disebabkan karena kurang masuknya unsur besi dengan makanan, karena gangguan reabsorbsi, gangguan penggunaan atau karena terlampau banyaknya besi keluar dari badan, misalnya pada perdarahan.
  2. Anemia megaloblastik disebabkan karena defisiensi asam folik (pteroylglutamic acid), jarang sekali karena defisiensi vitamin B12 (cyanokobalamin).
  3. Anemia hipoplastik disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. Etiologi anemia hipoplastik yaitu sepsis, sinar rontgen, racun atau obat-obatan.
  4. Anemia hemolitik disebabkan karena penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya.
  5. Anemia-anemia lain disebabkan karena malaria, cacing tambang, penyakit ginjal menahun, penyakit hati, tuberculosis, sepsis, tumor ganas dan lain-lain.

6. Tingkat Derajat Anemia

Menurut Depkes RI (2001) anemia dibagi menjadi dua derajat yaitu : anemia sedang bila kadar Hb antara 8-11gr% dan anemia berat bila kadar Hb kurang dari 8gr%. WHO (1998) membagi anemia menjadi dua kategori yaitu anemia ringan bila kadar Hb 8-11gr% dan anemia berat bila kadar Hb <8gr%. Menurut Manuaba (1998) mengatakan berdasarkan hasil pemeriksaan denga menggunakan alat sahli digolongkan menjadi tidak anemia bila kadar Hb gr%, anemia ringan bila kadar Hb 9-10gr%, anemia sedang bila kadar Hb 7-8gr%, dan anemia berat bila kadar Hb <7gr%.

7. Diagnosis Anemia pada Kehamilan

Menurut Sediaoetomo (1999) untuk menegakkan diagnosa anemia dapat dilakukan dengan:

  1. Anamnesa, didapatkan keluhan: – cepat lelah – sering pusing – mata berkunang-kunang – jantung berdebar-debar
  2. Pemeriksaan fisik didapatkan: – Penderita terlihat lelah – Kurang bergairah
  3. Pada inspeksi muka, konjungtiva, bibir, lidah, selaput lendir dan dasar kuku kelihatan pucat.
  4. Pemeriksaan palpasi kemungkinan didapatkan splenomegali dan takhikardi.
  5. Pemeriksan auskultasi dapat terdengar bising jantung.

Diagnosis anemia defisiensi besi yang berat tidak sulit karena ditandai ciri-ciri yang khas bagi defisiensi besi, yakni mikrositosis dan hipokromasia. Anemia yang ringan tidak selalu menunjukkan ciri-ciri yang khas itu, bahkan tidak banyak yang bersifat normositas dan normokrom. Hal ini disebabkan karena defisiensi  zat besi dapat berdampingan dengan defisiensi asam folik. Anemia ganda lazim disebut anemia diformis (Wiknjosastro, 1999). Pada pemeriksaan laboratorik memperlihatkan kadar hemoglobin menurun dibawah 11gr% bahkan pada anemia berat penurunan Hb dapat mencapai tingkat bawah 10gr% atau lebih rendah lagi. Pemeriksaan dan pengawasan Hb dapat dilakukan dengan menggunakan alat sahli.

Pemeriksaan diagnostik ditegakkan untuk mengetahui penyebab anemia secara tepat, adapun pemeriksaan diagnostic menurut Prawirohardjo (1999) adalah sebagai berikut:

  1. Hitung sel darah lengkap dan asupan darah Untuk tujuan praktis selama kehamilan dapat didefinisikan sebagai hemoglobin kurang dari 11gr%/100ml dan hematokrit kurang dari 30 sampai 33%, asupan darah tepi memberikan evaluasi morfologi eritrosit hitung jenis leukosit dan perkiraan keadekuatan trombosit.
  2. Beri serum total Nilai normal 60-135 mg %. Besi serum total menurun pada anemia defisiensi besi, anemia infeksi dan penyakit kronis. Peningkatan besi serum terjadi pada peningkatan kerusakan eritrosit (anemia hemolitik)
  3. Kapasiatas peningkatan besi total Nilai normal 250-350 gr % (peningkatan kira-kira 15% pada kehamilan). Kapasitas peningkatan besi total menurun pada Thalasemia mayor
  4. Kejenuhan transferin Nilai normal 20-30 %, nilai kurang dari 15 menujukan anemia defisiensi besi. Nilai dalam rentang 30% disertai oleh kapasitas peningkatan total sekitar 350 mg % menggambarkan kemungkinan Thalasemia minor, diagnosis ditegakkan dengan elektroforesis hemoglobin
  5. Faretin Serum Membantu penilaian kecukupan cadangan besi, kadar dibawah 10-20 mg % menunjukan difisiensi besi
  6. Tes sel sabit Pemapasan sel darah ke zat produksi menghasilkan perubahan khas yang menyertai hemoglobin S
  7. Pemeriksaan sumsum tulang Kurang besi yang dapat diwarnai dalam sumsum tulang belakang yang normal dalam hal ini merupakan ukuran paling dapat diandalkan dari difisiensi besi
  8. Hemoglobin serum Sedikit meningkat pada sel sabit thalasemia dan penyakit hemoglobin C meningkat, sedang pada sel sabit thalasemia mayor, anemia hemolitik akuista, hemoglobin serum jelas meningkat pada setiap hemolisis
  9. Hitung retikulasit Nilai normal 0.5-1.5% eritrosit. Peningkatan diteruskan pada penesakan eritrosit karena hemolisis pada penyakit sel sabit hilang retikulasit dapat meningkatkan sampai 30 %. Peningkatan hitung dan retikulasit juga merupakan petunjuk berguna bagi respon terapi besi pada anemia defisiensi besi.

8. Penanganan dan pengobatan

Penanganan tergatung dari penyebab anemia tetapi apapun penyebabnya harus cukup zat besi untuk keperluan pembentukan hemoglobin. Pada anemia defisiensi besiterapi degan preparat besi oral atau parental.

  1. Terapi oral biasanya diberikan preparat besi seperti: fero sulfat, fero gluconat atau nafero bisitrat. Pemberian preparat 60 mg/hari dapat menaikan kadar Hb sebanyak 1 gr % per bulan. Program nasional menganjurkan kombinasi 60 mg besi dengan 50 mg asam folat untuk profilaksis anemia. Kebijakan pemerintah dalam pemberian tablet Fe untk semua ibu hamil sebanyak satu kali satu tablet selama 90 hari.
  2. Pemberian preparat parental, yaitu dengan ferum dextran sebanyak 1000 mg (20ml) intravena atau 2 x 10 ml/intramuscular pada gluteus dapat meningkatkan Hb relative lebih cepat yaitu 2 gr %. Pemberian parental mempunyai indikasi intoleransi traktus gastrointestinal, anemia yang berat, kepatuhan yang buruk terhadap pemakain pereparat besi oral  (Wiknjosastro, 1999).

9. Pengaruh anemia terhadap kehamilan dan janin

Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin menurut Manuaba(1998) adalah sebagai berikut :

  1. Bahaya selama kehamilan
    • Dapat terjadi abortus
    • IUGR
    • Mudah terjadi infeksi
    • Ancaman dekompensasi kordis (Hb < 6 gr %)
    • Mola hidatidosa
    • Perdarahan antepartum
    • Ketuban pecah dini (KPD)
  2. Bahaya selama kehamilan
    • Gangguan harus kekuatan mengejan
    • Kala I dapat berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
    • Kala II berlangsung lama sehingga dapat melelahkan sehingga memerlukan tindakan operasi kebidanan
    • Kala III dapat diikuti retensio plasenta dan perdarahan post partum karena atonia uteri
    • Kala IV dapat terjadi perdarahan post partum sekunder dan atonia uteri
  3. Bahaya terhadap janin
    • Abortus
    • Terjadi kematian intrauterine
    • Perslinan prematuritas tinggi
    • BBLR
    • Kelahiran dengan anemia
    • Cacat bawaan
    • Mudah terjadi infeksi sampai terjadi kematian perinatal
    • Intelegensi rendah
  4. Bahaya pada masa nifas
    • Terjadi subinvalusio uteri menimbulkan perdarahan post partum
    • Memudahkan terinfeksi puerperium
    • Terjadi dekompensasi cordis mendadak setelah persalinan
    • Anemia kala nifas
    • Mudah terjadi infeksi mamae

10. Frekuensi anemia dalam kehamilan

  1. Menurut WHO kejadian anemia dalam kehamilan sekitar 28-89 %.
  2. Hoo Swie Tjiong menemukan angka anemia kehamilan 3.8 %  pada trimester I, 13.6 % trimester II dan 24.8 % pada trimester III.
  3. Simanjuntak mengemukakan sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia kekurangan gizi.  

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Terjadinya Anemia Pada Kehamilan

a. Faktor Dasar

Sosial Ekonomi

Menurut Istiarti (2000) menyatakan bahwa perilaku seseorang di bidang kesehatan di pengaruhi oleh latar belakang sosial ekonomi, WHO melaporkan bahwa tingkat sosial ekonomi berperan sebagai underlying dari faktor lainnya dalam mempengaruhi kematian maternal. Hal ini sesuai juga dengan pendapat Beck (1995) bahwa di samping penyebab medis, faktor sosial ekonomi memainkan peranan yang penting. Tingkat kemiskinan di negara berkembang menerangkan penyebab anemia berat dan efeknya yang serius pada sebagian besar negara di dunia. Sekitar 2/3 wanita hamil di negara berkembang diperkirakan menderita anemia dibanding di negara maju hanya 14%. Kesukaran yang di timbulkan oleh gizi buruk, kekurangan air, tabu terhadap makanan, produksi dan cadangan makanan yang tidak cukup dan tidak adanya sistem jaminan sosial yang efektif secara bersama-sama menurunkan kesehatan dan menyebabkan anemia pada para wanita.

Pada sosial ekonomi dalam sebuah keluarga ada kaitannya dengan pendapatan keluarga. Pendapatan berpengaruh pada daya beli dan konsumsi makanan sehari-hari. Asupan zat gizi sangat ditentukan oleh daya beli keluarga (Rohadi, 1997). Hal ini sesuai dengan pendapat Arisman (2004) status sosial ekonomi berguna untuk memastikan apakah ibu berkemampuan membeli dan memilih makanan yang bervariasi gizi tinggi. Sementara itu pemanfaatan fasilitas kesehatan oleh masyarakat dengan sosial ekonomi rendah masih sedikit di samping pelaksanaan itu sendiri masih jauh dari optimal.

Pendidikan

Pendidikan adalah proses perubahan perilaku menuju kedewasaan dan penyempurnaan hidup. Pendidikan itu umumnya berpengaruh terhadap kesehatan ibu dan anak. Wanita yang berpendidikan akan lebih terbuka terhadap ide-ide baru dan perubahan untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang mereka sadari sepenuhnya (Maulany,1999). Biasanya seorang ibu khususnya ibu hamil yang berpendidikan tinggi dapat menyeimbangkan pola konsumsinya. Apabila pola konsumsinya telah sesuai maka asupan zat gizi yang diperoleh akan tercukupi dan kemungkinan besar terhindar dari masalah anemia (Sayogya, 1997).

Pengetahuan

Pengetahuan merupakan resultan dari akibat proses pengindraan terhadap suatu obyek (Notoatmodjo, 2003). Menurut Sofoewan (1994) bahwa tingkat pengetahuan gizi yang rendah dapat juga mendukung terjadinya kesalahan dalam penyusunan menu makanan sehari-hari, sehingga jumlah yang di konsumsi lebih kecil dari kebutuhan. Keadaan ini akan menjadi lebih berat bagi wanita dalam masa kehamilan, karena selama kehamilan terjadi peningkatan kebutuhan zat-zat makanan. Defisiensi zat besi dan perhatian yang kurang terhadap zat gizi ibu hamil merupakan predisposisi terjadinya anemia defisiensi besi pada ibu hamil di Indonesia (Saifuddin,2002). Menurut Syarief (1997) ibu hamil dengan pengetahuan gizi rendah mempunyai resiko lebih tinggi untuk tejadinya anemia gizi dibandingkan ibu hamil yang mempunyai pengetahuan gizi tinggi.

Budaya

Masalah kekurangan gizi, bukan hanya disebabkan oleh faktor sosial ekonomi masyarakat, namun berkaitan pula dengan faktor sosial budaya setempat. Persepsi masyarakat yang disebut makan adalah makan sampai kenyang tanpa memperhatikan jenis, komposisi dan mutu makanan. Pendistribusian makanan dalam keluarga yang tidak berdasarkan kebutuhan untuk pertumbuhan dan perkembangan anggota keluarga, namun berdasarkan pantangan-pantangan yang harus diikuti oleh kelompok khusus, misalnya ibu hamil, bayi, ibu nifas dan sebagainya merupakan kebiasaan-kebiasaan adat istiadat dan perilaku masyarakat yang menghambat terciptanya pola hidup sehat di masyarakat. Selain itu dalam hal pangan terdapat budaya yang memprioritaskan anggota keluarga tertentu untuk mengkonsumsi hidangan keluarga, anggota keluarga lainnya menempati urutan prioritas berikutnya dan prioritas terbawah adalah golongan ibu-ibu rumah tangga tidak terkecuali ibu hamil.

b. Faktor Tidak Langsung

Kunjungan Antenatal Care (ANC)

Antenatal Care adalah pengawasan sebelum persalinan terutama pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim (Manuaba,1998). Ibu hamil dianjurkan untuk melakukan pengawasan antenatal minimal sebanyak 4 kali yaitu:

  • Trimester I : 1 kali
  • Trimestar II : 1 kali
  • Trimester III : 2 kali

Standar waktu pelayanan antenatal tersebut ditentukan untuk menjamin mutu pelayanan, khususnya dalam memberi kesempatan yang cukup dalam menangani kasus resiko tinggi yang ditemukan (Depkes RI, 1996). Menurut Sofoewan (1996) wanita hamil yang periksa hamil kurang dari 3 kali mempunyai resiko tinggi lebih besar untuk menderita anemia, dibandingkan ibu hamil yang periksa > 3 kali selama antenatal care. Dengan ANC keadaan anemia ibu akan lebih dini terdeteksi, karena dengan pemeriksaan Hb anemia akan terlihat, sebab pada tahap awal anemia pada ibu hamil jarang sekali menimbulkan keluhan bermakna, dan keluhan biasanya timbuk setelah anemia sudah ke tahap lanjut.

Paritas

Paritas adalah jumlah kehamilan yang menghasilkan janin yang mampu hidup diluar rahim (28 Minggu) (Pusdiknakes, 2003). Jumlah paritas lebih dari 3 kali dapat menambah resiko terhadap ibu dan bayi yang dikandungnya, lrebih-lebuh kalau jarak antara kehamilannya < 2 tahun, maka ibu akan lemah akibat dari seringnya hamil, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anaknya yang mengakibatkan berbagai masalah kesehatan, seperti ibu menderita anemia dan kurang gizi (Soetjiningsih, 1998). Paritas 3 merupakan faktor terjadinya anemia yang berhubungan denga jarak kehamilan yang terlalu dekat < 2 tahun. Menurut Manuaba (1998) menyatakan bahwa semakin sering seorang wanita mengalami kehamilan dan melahirkan makin banyak kehilangan zat besi dan menjadi semakin anemis.

Umur

Umur reproduksi sehat adalah 20-35 tahun dimana pada masa ini merupakan masa yang optimal bagi wanita untuk menjalani kehamilan dan persalinan (WHO, 1973 dalam Manuaba, 1998). Secara umum seorang wanita disebut siap secara fisik jika ia tekah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya yaitu sekitar usia 20 tahun. Ibu hamil pada usia terlalu muda (<20 tahun) tidak atau belum siap untuk memperhatikan lingkungan yang diperlukan untuk pertumbuhan janin. Disamping itu akan terjadi kompetensi makanan antara janin dan ibunya sendiri yang masih dalam pertumbuhan dan adanya perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan (Rohadi, 1997). Sedangkan ibu hamil diatas 30 tahun lebih cenderung mengalami anemia. Hal ini disebabkan karena pengaruh turunnya cadangan zat besi dalam tubuh akibat masa fertilitas (Sofoewan, 1996).

Menderita Sakit Selama Hamil

Wanita hamil berpenyakit kronis memerlukan bukan hanya zat gizi untuk mengatasi penyakitnya, tetapi juga untuk kehamilan yang sedang ia jalani. Adanya penyakit-penyakit kronis seperti TBC, paru, cacing usus dan malaria diduga dapat menyebabkan terjadinya anemia defisiensi zat besi (Early, 1997).

Usia Kehamilan

Kebutuhan akan Fe selama kehamilan trimester I relatif sedikit yaitu 0,8 mg sehari, yang kemudian meningkat tajam selama trimester III yaitu 6,3 mg sehari (Arisman, 2004). Kebutuhan zat besi setiap trimester tidak sama. Hal ini sesuai dengan bertambahnya usia kehamilan untuk memenuhi kehilangan basal dan untuk pembentukan sel-sel darah mer ah yang semakin banyak, serta janin dan plasentanya.

  • Trimester I : Kebutuhan zat besi 1 mg/hari (kehilangan basal 0,8 mg/hari) ditambah 30-40 mg untuk kebutuhan janin dan sel darah merah
  • Trimester II : Kebutuhan zat besi + 5 mg/hari (kehilangan basal 0,8 mg/hari) ditambah kebutuhan sel darah merah 300 mg dan konseptus 115 mg
  • Trimester III : Kebutuhan zat besi 5 mg/hari (kehilangan basal 0,8 mg/hari) ditambah kebutuhan sel darah merah 150 mg dan konseptus 223 mg (Kasdu, 2005)

c. Faktor Langsung

Pola konsumsi

Status gizi adalah derajat kesehatan orang yang dipengaruhi antara lain oleh tingkat kecenderungan makanan yang dikonsumsi. Tingkat konsumsi seseorang ditentukan oleh kualitas dan kuantitas hidangan. Pada keadaan kehamilan kebutuhan Fe dan zat gizi meningkat, apabila masuknya Fe selama hamil kurang maka mudah terjadi anemia defisiensi besi (Wiknjosastro, 1999).

Penyakit Infeksi

Penyakit infeksi seperti TBC, cacing usus dan malaria juga merupakan penyebab terjadinya anrmia karena menyebabkan terjadinya peningkatan penghancuran sel darah merah dan terganggunya produksi eritrosit (Early, 1997& Wiknjosastro, 1999).

Perdarahan

Penyebab anemia gizi besi dikarenakan terlampau banyaknya besi keluar dari badan misalnya perdarahan (Wiknjosastro, 1999). Perdarahan tersebut bisa daisebabkan oleh infeksi cacing tambang, malaria, haid yang berlebihan dan melahirkan (Kasdu, 2005).

Unduh Materi

Materi lengkap dalam bentuk doc dapat unduh disini : ANEMIA KEHAMILAN

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

Satu tanggapan untuk “Anemia Pada Ibu Hamil

  1. Blog yang sangat bermanfaat, Apa Itu Herpes Simplex

    Herpes simplex sendiri terbagi menjadi dua tipe. Tipe pertama adalah Herpes Simplex Virus 1 atau HSV-1. Virus ini biasanya menyerang mulut atau mulai dari pinggang ke atas. HSV-1 merupakan virus yang umum terjadi. Termasuk dalam HSV-1 ini adalah sariawan atau ruam lepuh pada bibir maupun mulut. HSV-1 bisa diobati walau tidak bisa sembuh total karena bisa kambuh lagi.

    Sementara herpes tipe 2 dikenal sebagai HSV-2, yang menyerang bagian pinggang hingga tubuh bagian bawah. HSV-2 inilah yang kerap menyerang bagian kelamin dan dikenal sebagai Herpes Genitalis. Penularannya lewat hubungan intim yang tidak aman. Setelah mengetahui herpes simplex, saatnya mengetahui herpes zoster.

    Apa Itu Herpes Zoster

    Herpes zoster disebut juga penyakit infeksi kulit dan merupakan lanjutan chicken pox atau cacar air. Virus yang menyerang sama seperti virus pada cacar air. Perbedannya adalah pada herpes zoster terdapat ciri yaitu cacar gelembung dengan ukuran yang lebih besar serta berkelompok di bagian tubuh tertentu. Biasanya, cacar gelembung akan ditemukan di dahi, punggung hingga dada.

    Penularan herpes zoster ini adalah melalui batuk, bersin ataupun pakaian yang tercemar. Dapat juga melalui sentuhan ke gelembuh atau lepuh yang telah pecah. Di samping mengetahui herpes, penting juga untuk memahami seperti apa gejala yang timbul dari penyakit ini.

    Andrologi | bagaimana mengatasi kulup panjang

    Apakah sunat sakit | Metode sunat modesn terkini

    hubungi Dokter | Chatting gratis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: