Pada kesempatan kali ini maimelajah.com akan membahas mengenai “Balon Blowing Pasien PPOK”. Literatur Review Latihan Teknik Meniup Balon (Balon Blowing) pada Pasien PPOK merupakan kumpulan dari beberapa penelitian yang kemudian diambil menjadi satu kesimpulan. PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversible atau reversible parsial, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik.

Tindakan relaksasi pernapasan mempunyai banyak teknik salah satunya adalah dengan menggunakan balon (ballon blowing) teknik relaksasi dengan meniup balon dapat membantu otot intracosta mengelevasikan otot diafragma dan kosta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya pengaruh latihan meniup balon pada pasien PPOK. Studi literature review adalah cara yang dipakai untuk mengumpulkan data atau sumber yang berhubungan pada suatu topik tertentu yang didapat dari sumber seperti, jurnal, buku dan pustaka lain, dengan jumlah refrensi yang digunakan adalah 6 jurnal. Dari  6 review jurnal yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa adanya pengaruh setelah melakukan teknik meniup balon terhadap tingkat pernafasan pasian PPOK.

#Mengenal PPOK

PPOK adalah penyakit paru kronik yang ditandai oleh hambatan aliran udara di saluran napas yang bersifat progresif nonreversible atau reversible parsial, bersifat progresif, biasanya disebabkan oleh proses inflamasi paru yang disebabkan oleh pajanan gas berbahaya yang dapat memberikan gambaran gangguan sistemik. Gangguan ini dapat dicegah dan dapat diobati. Penyebab utama PPOK adalah rokok, asap polusi dari pembakaran, dan partikel gas berbahaya (Virlando, 2018). Obstruksi saluran napas pada PPOK bersifat irreversible dan terjadi karena perubahan struktural pada saluran napas kecil yaitu inflamasi, fibrosis, metaplasi sel goblet dan hipertropi otot polos

World Health Organization (WHO) dalam Global Status of Non-communicable Diseases tahun 2010 mengkategorikan PPOK ke dalam empat besar penyakit tidak menular yang memiliki angka kematian yang tinggi setelah penyakit kardiovaskular, keganasan dan diabetes. Kematian menjadi beban sosial yang paling buruk yang diakibatkan oleh PPOK, namun diperlukan parameter yang bersifat konsisten untuk mengukur beban sosial. Parameter yang dapat digunakan adalah Disability-Adjusted Life Year (DALY), yaitu hasil dari penjumlahan antara Years of Life Lost (YLL) dan Years Lived with Disability (YLD). Berdasarkan hasil perhitungan tersebut, diperkirakan pada tahun 2030, PPOK akan menempati peringkat ketujuh, dimana sebelumnya pada tahun 1990 penyakit ini menempati urutan keduabelas.

Data prevalensi PPOK yang ada saat ini bervariasi berdasarkan metode survei, kriteria diagnostik, serta pendekatan analisis yang dilakukan pada setiap studi.1Berdasarkan data dari studi PLATINO, sebuah penelitian yang dilakukan terhadap lima negara di Amerika Latin (Brasil, Meksiko, Uruguay, Chili, dan Venezuela) didapatkan prevalensi PPOK sebesar 14,3%, dengan perbandingan laki-laki dan perempuan adalah 18,9% dan 11.3%. Pada studi BOLD, penelitian serupa yang dilakukan pada 12 negara, kombinasi prevalensi PPOK adalah 10,1%, prevalensi pada laki-laki lebih tinggi yaitu 11,8% dan 8,5% pada perempuan (Oemiati, 2013). Data di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013 (RISKESDAS), prevalensi PPOK adalah sebesar 3,7%. Angka kejadian penyakit ini meningkat dengan bertambahnya usia dan lebih tinggi pada laki-laki (4,2%) dibanding perempuan(3,3%).

Menurut data Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013 sebagian besar kasus hipertensi di masyarakat belum diketahui penyebabnya. Hal ini dapat dilihat dari hasil pengukuran tekanan darah pada usia 18 tahun keatas ditemukan prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar 25,8%, prevalensi tertinggi berada di Bangka Belitung 30,9% dan prevalensi terendah berada  dipapua sebesar 16,8% (Riskesdas, 2013).

Jumlah penderita PPOK di Provinsi Bali sebesar 3,5%. Prevalensi PPOK tertinggi terdapat di kabupaten Karangasem sebesar 12,5% dan terendah di Kabupaten Gianyar sebesar 1,0% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 4 2013). Menurut data yang diperoleh dari sim RSD Mangusada Badung pada tahun 2017 terjadi sebanyak 206 orang yang mengalami PPOK dari jumlah seluruh pasien sebanyak 2635. Pada tahun 2018 angka kejadian PPOK yaitu 161 orang dari jumlah pasien 2463 orang dan pada tahun 2019 terdapat 144 orang yang mengalami PPOK dari seluruh pasien sebanyak 1983 orang. Jadi total data dari tahun 2017-2019 adalah sebanyak 511 pasien.

Dalam menangani pasien dengan PPOK Tindakan relaksasi pernapasan mempunyai banyak teknik salah satunya adalah dengan menggunakan balon (ballon blowing) teknik relaksasi dengan meniup balon dapat membantu otot intracosta mengelevasikan otot diafragma dan kosta. Sehingga memungkinkan untuk menyerap oksigen, mengubah bahan yang masih ada dalam paru dan mengeluarkan karbondioksida dalam paru (Royani, Amerika, & Balon, 2017). Meniup balon sangat efektif untuk membantu ekspansi paru sehingga mampu mensuplai oksigen dan mengeluarkan karbondioksida yang terjebak dalam paru pada pasien dengan gangguan fungsi pernapasan. Peningkatan ventilasi alveoli dapat meningkatkan suplai oksigen, sehingga dapat dijadikan sebagai terapi dalam peningkatan saturasi oksigen. Dalam hal ini perawat menganjurkan kepada klien relaksasi pernafasan yaitu nafas dalam dengan teknik meniup balon. Anjurkan klien bagaimana cara menghirup udara melalui hidung dengan lambat menahan inspirasi dan mengeluarkan melalui mulut kedalam balon secara maksimal.

Berdasarkan latar belakang diatas peneliti ingin melakukan studi literature, maka peneliti ingin mengetahui adanya pengaruh Latihan meniup balon (balon blowing) pada pasien PPOK.Dari hasil literature rivew yang telah dilakukan bahwa kegiatan meniup balon atau balon blowing memiliki pengaruh terhadap peningkatan saturasi pernafasan pada pasien PPOK.  Tingkat pengaruh dari terapi meniup balon terhadap peningkatan respirasi pada pasien PPOK yaitu ada pengaruh, terbukti dari literature riview 6 jurnal yang digunakan mengungkapkan bahwa terapi meniup balon sangat berpengaruh dalam meningkatan saturasi oksigen pada PPOK. Contohnya pada  jurnal yang berjudul ” “Relaksasi pernafasan dengan teknik ballon blowing terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien ppok”.terdapat pengaruh relaksasi pernafasan dengan teknik ballon blowing terhadap peningkatan saturasi oksigen pada pasien PPOK di RSUD Kabupaten Buleleng.

#Unduh

Literatur Review Selengkapnya dapat di download disini : Latihan Balon Blowing PPOK

#Penutup

Demikian penjelasan singkat tentang artikel kami yang berjudul Balon Blowing Pasien PPOK. Penjelasan lengkap bisa kalian download pada link diatas. Semoga artikel kami bermanfaat bagi teman-teman yang sudah membaca artikel kami. Dan jangan lupa untuk membaca artikel kami yang lainnya.

Sampai Jumpa di artikel kami selanjutnya terima kasih

Artikel SebelumnyaPijat Kaki Pasien Hipertensi, Intip Infonya yukk!
Artikel SelanjutnyaBladder Training Untuk Melatih Perkemihan
Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini