Halo sahabat maimelajah.com, sebelum kita membahas artikel tentang Mengenal Keseimbangan Asam dan Basa. Apakah pengertian Asam dan Basa? kira-kira apa iya pengertiannya. Untuk mengetahui pengertian Asam dan Basa, teman-teman silahkan mampir di artikel kami yang berjudul Keseimbangan Asam dan Basa. Nah mari kita lanjutkan artikel tentang Mengenal Keseimbangan Asam dan Basa.

PH bisa dikatakan asam atau basa tergantung dari banyaknya ion hydrogen yang terkandung. Dalam tubuh kita secara fisiologis dikatakan pH normal bila 7,4 ± 0.05. pH dipengaruhi oleh ion karbonat (HCO3⁻) dan asam bikarbonat (H2CO3). Selain 2 hal itu asam dan basa juga dipengaruhi oleh CO2, dimana CO2 akan bereaksi secara kimia dan membentuk asam bikarbonat (H2CO3). Asam atau asidosis dibedakan menjadi asidosis metabolic dan respiratorik, basa atau alkalosis juga dibedakan menjadi alkalosis metabolic dan respiratorik.

KONSENTRASI  ION HIDROGEN DAN pH

Keasaman atau kebasaan suatu larutan tergantung dari ion hydrogen yang dikandungnya. Peningkatan kadar H⁺ akan menurunkan pH sehingga larutan menjadi lebih asam. Penurunan H⁺ akibat  penambahan basa ke dalam plasma akan menaikkan  pH. Tubuh manusia dapat mempertahankan keseimbangan asam basa dengan mengganti basa dan asam kuat dengan basa atau asam lemah.  

  • Asam adalah ion hydrogen atau donor proton. Suatu cairan disebut asam bila mampu melepas atau menyumbang H⁺
  • Basa adalah ion hydrogen atau akseptor proton. Suatu cairan bersifat basa bila sanggup menerima H⁺

Asam karbonat H2CO3  adalah asam karena mampu mengeluarkan H⁺ untuk menjadi HCO3⁻. Sedangkan bikarbonat (HCO3⁻) adalah basa karena dia mampu menangkap H⁺ untuk menjadi H2CO3. Kadar ion hydrogen dalam serum adalah 10⁻⁷ gr/l, angka yang sulit untuk diperhitungkan ; sehingga biasanya dipakai logaritma negative dari angka tersebut yang dinamakan pH. Nilai pH cairan ekstraseluler normal : 7,4 ± 0,05 (sedikit alkalis), sedangkan cairan intraseluler : 6,8 -7,00 (lebih netral).

FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSENTRASI H⁺

  1. Pemberian  asam melalui makanan
  2. Penambahan secara endogen dari hasil metabolisme (laktat) 
  3. Penambahan secara endogen yang tidak fisiologis (peragian dalam usus, DM)
  4. Pengeluaran asam/basa oleh ginjal dan usus
  5. Pengeluaran CO2 oleh paru
  6. Pembentukan asam dalam jumlah besar oleh sel – sel lambung  

REGULASI ASAM BASA

Untuk mempertahankan keseimbangan asam – basa diperlukan :

  1. Sistem penyangga (BUFFER)
  2. Sistem respirasi
  3. Sistem renal  

Dalam cairan ekstraseluler dan cairan intraseluler terdapat beberapa kombinasi kimiawi yang bertindak sebagai penyangga terhadap perubahan kadar H⁺.  Substansi – substansi ini akan mempertahankan cairan tubuh dalam keadaan pH relatif konstan.  Sistem penyangga selalu terdiri dari 2 bagian, yaitu asam lemah (donor H⁺) dan garam dari asam tersebut. Jadi bila asam kuat ditambahkan ke dalam larutan, proton bebas (H⁺) akan bergabung dengan penerima proton (basa) untuk membentuk asam lemah. Demikian pula bila basa kuat (OH) ditambahkan ke dalam larutan, akan menarik H⁺ dari asam lemah membentuk H2O sehingga mengurangi perubahan kadar H⁺.

Ada 4 sistim penyangga dalam tubuh yaitu :  

  • Bikarbonat dan asam bikarbonat
  • Fosfat 
  • Protein 
  • Hemoglobin dalam sel darah merah

Walaupun bikarbonat – asam karbonat merupakan penyangga utama dalam plasma (± 90%), namun di dalam sel kurang berarti. Hemoglobin di dalam sel darah merah sebagai protein intraseluler, memegang peran penting dalam sistim penyangga. Sistim ini bertanggungjawab dalam transport CO2 baik dari jaringan maupun paru. Bila kadar CO2 dalam plasma naik, akan terjadi difusi ke dalam sel darah merah, yang kemudian akan diubah oleh enzim karbonik anhidrase menjadi asam karbonat (CO2 + H2O * H2CO3). Dalam keadaan normal, perbandingan asam karbonat : bikarbonat dalam cairan ekstra – seluler adalah 1 : 20. Jumlah total asam karbonat tidaklah penting, yang penting adalah perbandingannya harus tetap untuk mempertahankan keseimbangan asam – basa.  

Mengenal Keseimbangan Asam dan Basa

BIKARBONAT

Diagnosis asidosis atau alkalosis metabolik dapat dibuat dengan melihat kadar bikarbonat dalam plasma. Angka normalnya 22 – 26 meq untuk darah arteri, dan 24 – 48 meq untuk darah vena. Kadar bikarbonat dalam plasma diatur oleh ginjal melalui keasaman urin.  

  • Jika pH turun, ginjal akan menahan HCO3
  • Jika pH naik, ginjal akan mengeluarkan HCO3
  • Respon terjadi dalam 28 jam (pelan) tetapi kuat

Asidosis respiratorik ditandai dengan penimbunan CO2 karena hipoventilasi. Asam karbonat akan meningkat sehingga rasio 1 : 20 berkurang dan pH turun.  

  • Jika pH turun, maka paru akan meningkatkan frekuensi ventilasi
  • Jika pH naik, maka paru akan mengurangi frekuensi dan kedalaman ventilasi

Respon terjadi dalam beberapa menit (cepat), tetapi lemah. Sebaliknya pada alkalosis respiratorik, terdapat deficit H2CO3 akibat hiperventilasi. Akibatnya terjadi peningkatan rasio 1 : 20, sehingga pH naik.  

ASIDOSIS  & ALKALOSIS

Ada 6 jenis kelainan dapat timbul yaitu :    

1. Asidosis respiratorik (peningkatan asam karbonat)

Hal ini dihubungkan dengan peningkatan CO2 dalam plasma akibat berkurangnya ventilasi. Berkurangnya ventilasi dapat disebabkan oleh : pneumothorax, efusi pleura, atelektasis atau sumbatan jalan nafas.

Dalam bentuk kronis penyebabnya adalah : emfisema obstruktif, asma, bronchitis, penekanan pusat pernafasan, gangguan otot-otot pernafasan.  
Pada keadaan ini paru-paru menahan CO2 sehingga rasio 1 : 20 dilampaui. Pada taraf permulaan kadar bikarbonat masih normal, tapi akibat  peningkatan CO2, kadar asam bikarbonat naik sehingga rasionya mungkin 2 : 20.  

Mekanisme kompensasi dilakukan oleh tubuh, ginjal menahan natrium dan bikarbonat, mengeluarkan klorida, ion hydrogen, dan anion lainnya, sehingga urin menjadi lebih asam. Hasilnya adalah peningkatan kadar bikarbonat yang akan membantu mempertahankan pH normal. Pengobatan harus dilakukan demikian pula usaha memperbaiki ventilasi, sebelum timbul hipoksia yang akan memperburuk keadaan.

Pada kegawatan nafas akut, jalan nafas harus dijaga dan ventilasi mekanis dilakukan sampai pCO2 kembali ke nilai normal. Cairan pun harus diberikan dalam bentuk larutan laktat. Ion laktat akan diubah di dalam hati menjadi bikarbonat, sehingga meningkatkan kadar bikarbonat dalam serum. Sebagai ringkasan dapat dilihat bahwa hipoventilasi menyebabkan CO2 terkumpul maka kadar H2CO3 naik, selanjutnya kadar H⁺ naik dan terjadilah asidosis respiratorik.  

2. Alkalosis respiratorik (Deficit asam karbonat)

Keadaan ini berhubungan dengan menurunnya kadar CO2 + H2CO3 dalam plasma, dan meningkatnya pH akibat peningkatan ventilasi alveolar.
Alkalosis respiratorik dapat terjadi pada :

  • Hiperventilasi emosional
  • Ensefalitis
  • Keracunan salisilat
  • Gangguan pusat pernafasan

Alkalosis respiratorik yang berat dapat timbul pada tetani disertai aritmia jantung, karena berkurangnya ion kalsium atau keracunan digitalis. Pada keadaan ini paru mengeluarkan CO2 demikian banyak sehingga kadar asam karbonat.

Mekanisme kompensasi pada tahap awal dilakukan oleh ginjal dengan mengeluarkan bikarbonat Na dan K, sehingga urin menjadi basa, sedangkan H dan anion – anion ditahan. Bila penderita dalam respirator, keseimbangan asam basa dapat diperbaiki. Karena K dikeluarkan melalui urin, maka diperlukan pemberian cairan yang mengandung K, sedangkan Cl diperlukan untuk mengganti kedudukan HCO3

3. Asidosis metabolic (Deficit bikarbonat)

Keadaan ini sering terjadi pada penderita dengan :

  • DM tak terkontrol
  • Anoksia jaringan sehingga terjadi penimbunan asam laktat
  • Diare 
  • Gangguan fungsi ginjal

Yang terjadi adalah perbaindingan bikarbonat terhadap asam bikarbonat menjadi berkurang. Kompensasi tubuh dilakukan dengan mengeluarkan CO2 melalui paru dan ginjal, menahan bikarbonat dengan mengeluarkan H dan anion-anion lain. Pengobatan harus ditujukan untuk menghilangkan penyebab meningkatnya produk metabolit asam, memperbaiki fungsi ginjal dengan hidrasi yang baik, dan mengganti bikarbonat dengan Natrium atau KHCO3⁻. Apabila kadar laktat dalam darah tidak naik, larutan yang mengandung laktat dapat diberikan, karena ion laktat di dalam hati akan diubah menjadi bikarbonat.

4. Alkalosis metabolik

Hal ini terjadi bila asam kuat keluar dari dalam tubuh. Misalnya pada keadaan muntah – muntah banyak HCl yang keluar. Karena H dan Cl banyak keluar, natrium bebas akan mengikat HCO3 yang akan bertambah jumlahnya bila asam karbonat berkurang. Untuk mengurangi peningkatan kadar bikarbonat, pernafasan akan ditekan sehingga asam karbonat ditahan, sedangkan bikarbonat Na, K dikeluarkan. Penyebab alkalosis metabolic yang paling sering pada penderita jantung adalah pemberian diuretika golongan air raksa.

Berkurangnya K dalam sel oleh berbagai sebab akan menyebabkan alkalosis, melalui peningkatan bikarbonat dan penurunan klorida di dalam serum. Pemberian Na bikarbonat atau Na laktat dalam dosis besar dapat menyebabkan alkalosis. Ini bukan disebabkan karena bertambahnya natrium, karena Na bukan penerima proton sehingga tidak menggangu kadar H⁺. tetapi akibat meningkatnya kadar bikarbonat, yang selanjutnya akan mengurangi kadar H⁺ dengan membentuk lebih banyak asam karbonat, yang kemudian dikeluarkan sebagai CO2 dan H2O. pengobatan alkalosis harus termasuk usaha untuk mencegah berlanjutnya pengeluaran asam bersamaan dengan penggantian anion – anion dan K. sebaiknya diberikan NaCl dan KCl untuk menanggulangi kekurangan kalium dan mengganti ion bikarbonat dengan Cl.

5. Asidosis respiratorik dan metabolik

Asidosis respiratorik dan metabolic ini ditandai penurunan pH dan disertai dengan penurunan ion karbonat serta terjadi penumpukan CO2. Pada keadaan ini pH tubuh bersifat asam. Penumpukan CO2 dalam tubuh akan membentuk asam bikarbonat yang berlebih. Pada kasus ini karena asam bikarbonat banyak terbentuk maka ion karbonat akan semakin berkurang.  Pembentukan asam bikarbonat yang berlebih akan menyebabkan pH tubuh turun dan bersifat asam.

6. Alkalosis respiratorik dan metabolik

Alkalosis respiratorik dan metabolic ini ditandai peningkatan pH dan disertai dengan peningkatan ion karbonat serta peningkatan CO2.  

PENGUKURAN KESEIMBANGAN ASAM & BASA

GANGGUANpHGANGGUAN MURNIRESPON KOMPENSASI
ASIDOSIS METABOLIKHCO3pCO2
ALKALOSIS METABOLIK­HCO3pCO2
ASIDOSIS RESPIRATORIpCO2HCO3
ALKALOSIS RESPIRATORI­pCO2HCO3

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai artikel Mengenal Keseimbangan Asam dan Basa

Unduh Materi

Untuk materi lengkap tentang Mengenal Keseimbangan Asam dan Basa dapat di Unduh pada link berikut ini : asambasa.doc dan asambasa.ppt

Artikel SebelumnyaKeseimbangan Cairan dan Elektrolit
Artikel SelanjutnyaPenyakit Demam Berdarah Dengue
Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

2 KOMENTAR

  1. Bagaimana mengobati kencing nanah tanpa obat?

    Mengobati kencing nanah tanpa obat mungkin sangat kecil kemungkinan yang bisa dilakukan dengan cara ini. Karena jika anda menderita penyakit maka anda harus melakukan pemeriksaan dan pengobatan dengan dokter yang tentunya akan diberikan obat yang sesuai dengan penyebabnya.
    Apa yang anda rasakan jika anda terkena atau terinfeksi penyakit menular seksual ini?

    1. Stress, Malu, Takut di Kucilkan
    2. Putus asa
    3. Malu untuk melakukan pemeriksaan dengan dokter

    "Jika anda merasakan gejala atau tanda2 kencing nanah, jangan merasa malu untuk melakukan pemeriksaan. segera lakukan pengobatan secepat mungkin untuk membantu anda agar terhindar dari infeksi penyakit lain yang dapat di timbulkan dari penyakit kencing nanah."
    Silahkan konsultasikan keluhan yang anda rasakan pada kami. Klinik apollo merupakan salah satu klinik sepesialis kulit dan klamin terbaik di jakata. Ditunjang tekhnologi modern serta dokter yang sudah berpengalaman dibidangnya, kami dapat membantu memberikan solusi untuk keluhan penyakit kelamin yang anda rasakan.

    Kunjungi halaman facebook kami di : Klinik Spesialis Kelamin Apollo

    Kulup panjang | Kulup bermasalah tidak usah mau sunat

    Ejakulasi dini bisa sembuh | Sunat dewasa di klinik apollo

    Chat | Klini chat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini