Mengenal Leukimia (Kanker Darah)

Pada kesempatan kali ini maimelajah.com akan membahas mengenai Mengenal Leukimia (Kanker Darah). Leukemia merupakan proliferasi patologis dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal (Ngastiyah, 1997). Leukemia adalah neoplasma akut atau kronis dari sel-sel pembentuk darah dalam sumsum tulang dan limfa nadi (Reeves, 2001). Sifat khas leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, menggantikan elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati, limpa dan nodus limfatikus, dan invasi organ non hematologis, seperti meninges, traktus gastrointesinal, ginjal dan kulit.

Leukemia adalah suatu keganasan pada alat pembuat sel darah berupa proliferasi patologis sel hematopoetik muda yang ditandai oleh adanya kegagalan sumsum tulang dalam membentuk sel darah normal dan adanya infiltrasi kejaringan tubuh lain (Arif Manjoer, 495: 2000)

Mengenal Leukimia (Kanker Darah)

Klasifikasi Leukimia

Leukemia yang terjadi akibat proliferasi set muda, perjalanan penyakitnya cepat menjadi buruk dan fatal. Penyakit ini digolongkan dalam kelompok lekemia akut; hal sebaliknya terjadi pada lekemia menahun (kronik). Semua lekemia dibagi menurut set asalnya yaitu lekemia yang berasal dari seri limfoid dan yang berasal dari seri bukan limfoid atau mielosit, yaitu sel yang hanya dapat dibentuk dan berdiferensiasi dalam sumsum tulang.

Leukemia Mielogenus Akut

AML mengenai sel stem hematopeotik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel Mieloid: monosit, granulosit, eritrosit, eritrosit dan trombosit. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi.

Leukemia Mielogenus Kronis

CML juga dimasukkan dalam sistem keganasan sel stem mieloid. Namun lebih banyak sel normal dibanding bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. CML jarang menyerang individu di bawah 20 tahun. Manifestasi mirip dengan gambaran AML tetapi tanda dan gejala lebih ringan, pasien menunjukkan tanpa gejala selama bertahun-tahun, peningkatan leukosit kadang sampai jumlah yang luar biasa, limpa membesar.

Luekemia Limfositik Akut

ALL dianggap sebagai proliferasi ganas limfoblast. Sering terjadi pada anak-anak, laki-laki lebih banyak dibanding perempuan, puncak insiden usia 4 tahun, setelah usia 15 ALL jarang terjadi. Manifestasi limfosit immatur berproliferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer, sehingga mengganggu perkembangan sel normal.. 4. Leukemia Limfositik Kronis  CLL merupakan kelainan ringan mengenai individu usia 50 sampai 70 tahun. Manifestasi klinis pasien tidak menunjukkan gejala, baru terdiagnosa saat pemeriksaan fisik atau penanganan penyakit lain.

Etimologi

Walaupun penyebab Ickemia belum sepenuhnya diketahui, sejumlah faktor terbukti berpengaruh dan dapat menyebabkan lekemia, baik faktor intrinsik (host) ataupun faktor ekstrinsik (lingkungan).

Faktor intrinsik

Keturunan

Leukemia tidak diwariskan, tetapi sejumlah individu me-miliki faktor predisposisi untuk mendapatkannya. Risiko ter-jadinya lekemia meningkat pada kembar identik penderita leukemia akut, demikian pula walaupun jarang, pada saudara lainnya.

Kelainan kromosom

Kejadian leukemia meningkat pada penderita dengan kelainan fragilitas kromosom (Sindrom Bloom dan Anemia Fanconi) atau pada penderita dengan jumlah kromosom yang abnormal seperti pada Sindrom Down, Klinefelter, dan Turner.

Defisiensi Imun

Sistim imunitas tubuh kita mcmiliki kemampuan untuk mengidentifikasi sel yang berubah menjadi sel ganas. Gangguan pada sistim tersebut dapat menyebabkan beberapa sel ganas lolos dan selanjutnya berproliferasi hingga menimbulkan penyakit. Disfungsi sumsum tulang, scperti sindrom mielodisplastik, mieloproliferatif, anemia aplastik dan hemoglobinuria noktur-nal paroksismal.

Faktor Lingkungan

Radiasi

Adanya efek lekemogenik dan ionisasi radiasi, dibuktikan dengan tingginya insidens lekemia pada ahli radiologi (sebelum ditemukannya alat pelindung), penderita dengan pembesaran kelenjar timus, ankilosing spondilitis, dan penyakit Hodgkin yang mendapat terapi radiasi. Diperkirakan 10 persen penderita lekemia memiliki latar belakang radiasi. Bukti yang kuat adalah tingginya insidens lekemia setelah peristiwa pemboman Hiroshima dan Nagasaki.

Bahan kimia dan obat-obatan

Pemaparan terhadap benzen dalam jumlah besar dan ber-langsung lama dapat menimbulkan lekemia. Kejadian ini akan sangat meningkat pada penderita anemia aplastik. Demikian pula halnya setelah pengobatan dengan obat golongan antra-siklin.

Infeksi 

Belum dapat dibuktikan bahwa penyebab lekemia pada manusia adalah virus, walaupun ada beberapa penelitian yang menyokong teori tersebut antara lain dengan ditemukannya enzim reverse transcriptase dalam darah penderita lekemia. Kelainan paling mendasar dalam proses terjadinya kega-nasan adalah kelainan genetik sel. Proses transformasi menjadi sel ganas dimulai saat DNA gen suatu sel mengalami perubahan. Perlu diingat bahwa adanya gangguan pada beberapa tingkatan dan aktifitas faktor-faktor yang diperlukan dalam gra-nulopoesis yang normal, merupakan faktor yang diperlukan untuk perkembangan dan progresifitas dari lekemia akut dan menahun. Kejadian lekemia berbeda pada berbagai umur, pe-nampilan klinik, kelangsungan hidup dan respons terhadap pengobatan. Hal ini disebabkan adanya variasi respons pejamunya.

Tanda-Tanda dan Gejala

  1. Hipertropi gusi, ulkus rektum dan vagina yang ditemukan pada lekemia akut mielo-monositik.
  2. Pembesaran kelenjar getah bening ditemukan terutama pada lekemia akut limfoblastik.
  3. Perasaan lelah, pucat, demam dan perdarahan adalah gejala utama pada penderita lekemia akibat terdesaknya hemopoesis sel normal di dalam sumsum tulang.
  4. Perdarahan gusi, epistaksis, ataupun perdarahan saluran cema, cepat menarik perhatian dan tak jarang merupakan gejala utama yang menyebabkan penderita memeriksakan diri.
  5. Penderita lekemia progranulositik akut umumnya mengalami perdarahan sedang sampai berat dengan adanya ekimosis yang luas di kulit serta cenderung mengalami koagulasi intravaskular diseminata. Pada lekemia limfoblastik akut perdarahan biasanya ringan.
  6. Infeksi, seperti abses piogenik dan atau adanya septikemia, biasanya sering terjadi, terutama pada leukemia non limfoblastik akut yang dapat berakhir fatal dan merupakan keadaan yang segera harus diatasi.
  7. Infeksi saluran napas atas dan bawah, selulitis, paronikia, dan otitis media.
  8. Adanya pembesaran kelenjargctah bening dan limpa dalam ukuran ringan sampai sedang, suring dijumpai pada penderita lekemia limfoblastik akut tapi jarang pada lekemia non limfo-blastik.
  9. Gangguan susunan saraf pusat dapat terjadi akibat adanya perdarahan, infiltrasi sel lekemia atau infeksi.
  10. Perdarahan dalam susunan saraf pusat acapkali merupakan masalah gawat dan biasanya terjadi akibat kenaikan jumlah lekosit dengan cepat, trombositopeni yang cepat dan adanya koagulopati intravaskular diseminata.

Unduh Materi

Terima kasih sudah mampir ke artikel Mengenal Leukimia (Kanker Darah). Untuk materi lengkap tentang Mengenal Leukimia (Kanker Darah) bisa kalian unduh pada link dibawah ini : leukemia

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

3 tanggapan untuk “Mengenal Leukimia (Kanker Darah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: