Pasien Post Operasi Perlukah Observasi Intensif?

Pada kesempatan kali ini maimelajah.com akan membahas mengenai artikel dengan judul Pasien Post Operasi Perlukah Observasi Intensif?. Post Operasi adalah masa setelah dilakukan pembedahan yang dimulai saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan dan berakhir sampai evaluasi selanjutnya. Perawatan post operasi adalah prosedur rutin yang segera dilaksanakan setelah operasi dan akan terus dilakukan sampai pasien benar-benar sembuh.  Proses keperawatan pascaoperatif pada praktiknya akan dilaksanakan secara  berkelanjutan baik di ruang pemulihan, ruang intensif, dan ruang rawat inap bedah. Fase pascaoperatif adalah suatu kondisi dimana pasien sudah masuk di ruang pulih sadar sampai pasien dalam kondisi sadar betul untuk dibawa keruang rawat inap. Walaupun sudah tampak membaik pasien post operasi perlu pemantauan intensif

Prosedur Bedah

Prosedur bedah pada dasarnya terbagi dalam tiga kelompok besar, yang di dalamnya masih akan terbagi lagi sesuai kategorinya. Berikut rinciannya.

Kelompok operasi berdasarkan tujuan

Kelompok pertama ini menggolongkan prosedur bedah berdasarkan tujuan dari tindakan medis ini dilakukan. Pada dasarnya operasi dianggap sebagai metode pengobatan, namun tindakan medis ini juga dapat digunakan untuk :

  • Mendiagnosis. : Operasi yang digunakan untuk mendiagnosis penyakit tertentu, seperti operasi biopsi yang sering dilakukan untuk memastikan dugaan adanya kanker padat atau tumor pada bagian tubuh tertentu.
  • Mencegah : Tak hanya mengobati, bedah dilakukan juga untuk mencegah suatu kondisi yang lebih buruk lagi. Misalnya, operasi pengangkatan polip usus yang bila tak ditangani akan dapat tumbuh menjadi kanker.
  • Menghilangkan.: Operasi ini dilakukan dengan tujuan untuk mengangkat sejumlah jaringan dalam tubuh. Biasanya, operasi jenis ini memiliki akhiran – ektomi. Misalnya saja mastektomi (pengangkatan payudara) atau histerektomi (pengangkatan rahim).
  • Mengembalikan. : Operasi juga dilakukan untuk dapat mengembalikan suatu fungsi tubuh menjadi normal kembali. Contohnya, pada rekonstruksi payudara yang dilakukan oleh orang yang telah melakukan mastektomi.
  • Paliatif : Jenis operasi ini ditujukan untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan oleh pasien yang biasanya mengalami penyakit kronis stadium akhir.

Kelompok operasi berdasarkan tingkat risiko

Setiap operasi bedah pasti memiliki risiko, tetapi tingkat risikonya tentu berbeda-beda. Berikut adalah pengelompokkan operasi berdasarkan tingkat risikonya:

  • Bedah mayor : Merupakan operasi yang dilakukan di bagian tubuh seperti kepala, dada, dan perut. Salah satu contoh operasi ini adalah operasi cangkok organ, operasi tumor otak, atau operasi jantung. Pasien yang menjalani operasi ini biasanya membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih.
  • Bedah minor : Kebalikan dari tindakan bedah mayor, operasi ini tidak membuat pasiennya harus menunggu lama untuk pulih kembali. Bahkan dalam beberapa jenis operasi,pasien diperbolehkan pulang pada hari yang sama. Contoh operasinya seperti biopsi pada jaringan payudara.

Kelompok operasi berdasarkan teknik

Pembedahan itu sendiri dapat dilakukan dengan beragam teknik berbeda, tergantung dari bagian tubuh mana yang harus dioperasi dan penyakit apa yang diderita oleh pasien.

  • Operasi bedah terbuka : Metode ini biasanya disebut dengan operasi konvensional, yaitu tindakan medis yang membuat sayatan pada bagian tubuh dengan menggunakan pisau khusus. Contohnya adalah operasi jantung, dokter menyayat bagian dada pasien dan membukanya agar organ jantung terlihat jelas.
  • Laparaskopi : Jika sebelumnya operasi dilakukan dengan menyayat bagian tubuh, pada laparaskopi, ahli bedah hanya akan menyayat sedikit dan membiarkan alat seperti selang masuk ke dalam lubang yang telah dibuat, untuk mengetahui masalah yang terjadi di dalam tubuh

Perawatan post operasi bertujuan untuk :

  1. Mengurangi atau menghilangkan risiko komplikasi
  2. Mengajarkan pasien merawat luka pada perawatan post operasi
  3. Mengantisipasi hal – hal yang mungkin akan dibutuhkan pasien
  4. Menjalankan terapi untuk membantu pasien menjadi lebih mandiri
  5. Memantau kemajuan proses penyembuhan

Prosedur Perawatan :

  1. Pemberian obat-obatan untuk mengurangi rasa nyeri dan tidak nyaman, mempercepat penyembuhan, dan menenangkan pasien.
  2. Pengawasan atau pemantauan intensif. Ini berarti dokter bedah tidak melakukan apapun kecuali benar-benar dibutuhkan. Sebaliknya, ia akan memastikan bahwa luka sembuh seperti yang diharapkan.
  3. Pemberian KIE pasien atau keluarga. Dokter bedah memberikan informasi yang dibutuhkan agar pasien dapat lebih terlibat dalam proses penyembuhan. Contohnya adalah informasi tentang cara membersihkan dan melindungi luka, mengenali kemungkinan infeksi, apa yang boleh dimakan, aktivitas yang dapat dilakukan atau harus dihindari ketika masa penyembuhan, cara meningkatkan pergerakan, terapi yang mungkin harus dijalani pasien untuk memulihkan fungsi tubuh, serta obat-obatan untuk dikonsumsi di rumah.
  4. Nutrisi : Dokter bedah biasanya bekerja sama dengan ahli gizi yang dapat membuat pola makan untuk pasien berdasarkan kondisinya atau jenis operasi yang telah dilalui. Pasien juga akan diajarkan tentang jenis makanan dan minuman yang harus dihindari, terutama selama beberapa jam atau hari pertama setelah operasi.
  5. Bimbingan bagi anggota keluarga. Kondisi pasien cenderung akan membaik apabila mereka mendapat dukungan dari keluarga dekat, yang juga dapat bertindak sebagai perawat saat masa penyembuhan. Bimbingan ini sangat membantu dalam mempersiapkan keluarga untuk perubahan yang mungkin terjadi saat pasien dalam masa penyembuhan.
  6. Perawatan yang sistematis: Perawatan pasca bedah tidak hanya terfokus pada organ yang telah dioperasi tetapi juga kesehatan pasien secara keseluruhan. Oleh karena itu, perawatan juga dilakukan pada sistem tubuh lainnya, terutama kardiovaskular, sistem kemih, dan sistem pernapasan.

Komplikasi Post Operasi

Obstruksi jalan nafas

Terjadi bila pasien masih terpengaruh sedasi dan pangkal lidah jatuh ke dalam menutup jalan nafas. Tindakan pertama kali yang harus dilakukan adalah memeriksa respon pasien dengan mengajak bicara untuk memastikan kepatenan jalan nafas. Pasien yang setelah operasi masih tidak sadar mungkin memerlukan bantuan airway  dan ventilasi Tanda – tanda terjadinya obstruksi jalan nafas adanya suara snoring atau gurgling, stridor atau suara nafas tidak normal, hipoksia, penggunaan otot bantu nafas, sianosis

Hipoksia

Hipoksia adalah kondisi kurangnya suplai oksigen ke jaringan tubuh. Hipoksemia adalah menurunnya kadar oksigen di dalam darah. Anestesi atau pembiusan terutama general anesthesia memiliki risiko hipoksemia dan hipoksia. Faktor – faktor yang menyebabkan hipoksemia dan hipoksia selama pembedahan adalah :

  1. Penggunaan obat – obatan untuk paralisis otot pernafasan
  2. Penggunaan obat – obatan sedasi yang dapat mendepresi pernafasan
  3. Posisi tubuh pasien saat operasi
  4. Aspirasi
  5. Durasi pembedahan
  6. Trauma saat pembedahan
  7. Penyakit paru yang sudah diderita pasien

Risiko hipoksia dapat diminimalkan dengan melakukan penilaian dan pemeriksaan pasien secara seksama sebelum melakukan tindakan anestesi atau pembedahan.

Perdarahan internal atau eksternal

Salah satu komplikasi post operasi yang paling sering adalah perdarahan baik aktif maupun masif. Perdarahan yang berlebihan akan menimbulkan syok hipovolemik dengan manifestasi klinis yaitu gelisah, haus, akral dingin, ekstremitas dan konjungtiva pucat, nadi meningkat, suhu tubuh turun, nafas cepat dan dalam.

Hipertensi atau hipotensi

Hipotensi didefinisikan sebagai tekanan darah sistole kurang dari 70 mmHg atau turun lebih dari 25% dari nilai sebelumnya. Hipotensi dapat disebabkan oleh hipovolemia yang diakibatkan oleh perdarahan dan efek samping obat anestesi. Hipertensi disebabkan oleh analgesik dan hipnosis yang tidak adekuat, batuk, penyakit hipertensi sebelum operasi dan ventilasi yang tidak adekuat.

Nyeri post operasi

Nyeri post operasi merupakan efek klinis yang biasa dijumpai pada pasien yang menjalani operasi. Nyeri adalah suatu pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan berkaitan dengan kondisi aktual atau potensial kerusakan jaringan atau luka sayatan

Menggigil/hipotermia

Menggigil dialami oleh sebagian pasien post operasi. Kondisi ini terjadi karena selama operasi pasien tidak bergerak dalam waktu yang cukup lama dan suhu tubuhnya mengalami penurunan. Penggunaan obat bius total untuk operasi juga mempengaruhi kemampuan tubuh dalam mengendalikan suhu tubuh

Muntah, aspirasi

Mual dan muntah post operasi atau Post Operative Nausea and Vomiting (PONV) tidak mengenakkan bagi pasien dan potensial mengganggu penyembuhan paska operasi. Faktor – faktor yang mempengaruhi mual muntah post operasi :

  1. Makanan : waktu puasa yang panjang atau baru saja makan
  2. Ansietas : stress dan ansietas bisa menyebabkan muntah
  3. Penyebab operasi : operasi dengan peningkatan TIK, obstruksi saluran pencernaan, kehamilan, aborsi atau pasien dengan kemoterapi
  4. Efek obat : analgetik mempunyai efek samping mual dan muntah.
  5. Teknik anestesi : general anestesi memiliki efek mual muntah yang lebih tinggi daripada regional anestesi.
  6. Durasi operasi : setiap 30 menit penambahan waktu operasi resiko mual muntah (PONV) meningkat sampai 60%

Jatuh Ke lantai

Tingkat resiko jatuh dipengaruhi oleh jenis kelamin, jenis pekerjaan, usia, pendidikan, riwayat jatuh sebelumnya, alat bantu yang digunakan, gaya berjalan/cara berpindah, status mental/daya ingat yang dimiliki serta terpasangnya terapi intravena

Sisa narkosis

Merupakan sisa dari anestesi setelah operasi. Anestesi  diberikan pada pasien yang menjalani operasi dengan tujuan membuat pasien tenang dan mengurangi rasa nyeri. Ada beberapa jenis agen anestesi yang biasa digunakan dan masing – masing memiliki efek samping serta durasi pengaruh yang berbeda. Selama operasi penggunaan anestesi diperhitungkan sehingga kecil kemungkinan pasien bangun di tengah operasi

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai artikel Pasien Post Operasi Perlukah Observasi Intensif?.

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: