Syok Anafilaktik : Definisi, Etiologi, Patofisiologi merupakan artikel yang kami akan bahas pada kesempatan kali ini. Apa itu definisi syok anafilaktik? apakah berbahaya? Apa saja manifestasi klinisnya? Bagaimana patofisiologinya sehingga bisa terjadi? maimelajah.com akan berusaha mengulasnya.

Definisi Reaksi Anafilaktik (Syok Anafilaktik)

  • Reaksi alergi atau hipersensitivitas merupakan respon imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karena dapat menimbulkan kerusakan jaringan tubuh.
  • Reaksi tersebut oleh Gell dan Coombs dibagi menjadi empat tipe reaksi berdasar kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi.
  • Reaksi tersebut dapat terjadi secara tunggal. Namun dalam praktek sehari-hari sering ditemukan adanya dua atau lebih jenis reaksi yang terjadi secara bersamaan.
  • Reaksi anafilaksis atau reaksi tipe I merupakan reaksi cepat dimana gejala muncul segera setelah alergen masuk ke dalam tubuh.
  • Terdapat berbagai definisi mengenai anafilaksis. Namun pada umumnya para pakar sepakat bahwa anafilaksis merupakan keadaan darurat yang potensial dan dapat mengancam nyawa.
  • Gejala yang timbul melalui reaksi alergen dan antibodi dikenal dengan reaksi anafilaktik. Sedangkan reaksi yang tidak melalui reaksi imunologik disebut reaksi anafilaktoid. Namun karena gejala yang timbul maupun pengobatannya tidak dapat dibedakan, maka kedua reaksi di atas disebut sebagai anafilaksis.

Etiologi Reaksi Syok Anafilaktik

  • Berbagai mekanisme terjadinya anafilaksis, baik melalui mekanisme IgE ataupun melalui non-IgE.
  • Selain obat yang menjadi penyebab tersering dari anafilaksis, terdapat beberapa pencetus lain. Seperti makanan, kegiatan jasmani, sengatan tawon, faktor fisis seperti udara yang panas, air yang dingin. Juga beberapa kejadian tidak diketahui penyebabnya.
  • Makanan merupakan pemicu tersering pada anak-anak dan obat-obatan pada orang dewasa.
  • Secara umum makanan ataupun obat jenis apapun dapan menjadi pemicu. Namun beberapa jenis makanan seperti kacang-kacangan dan juga obat seperti pelemas otot, antibiotik, NSAID serta aspirin dilaporkan menjadi penyebab anafilaksis

Manifestasi Klinis

Manifestasi klinis anafilaksis sangat bervariasi. Secara klinik terdapat 3 tipe dari reaksi anafilaktik, yaitu :

Reaksi Cepat

reaksi cepat yang terjadi beberapa menit sampai 1 jam setelah terpapar dengan alergen.

Reaksi Moderat

Reaksi moderat terjadi antara 1 sampai 24 jam setelah terpapar dengan alergen

Reaksi Lambat

reaksi lambat terjadi lebih dari 24 jam setelah terpapar dengan alergen. Gejala dapat dimulai dengan gejala prodormal baru menjadi berat, tetapi kadang-kadang langsung berat.

Berdasarkan derajat keluhan, anafilaksis juga dibagi dalam derajat ringan, sedang, dan berat.

Derajad Ringan

Derajat ringan sering dengan keluhan kesemutan perifer, sensasi hangat, rasa sesak di mulut dan tenggorok. Dapat juga terjadi kongesti hidung, pembengkakan periorbital, pruritus, bersin-bersin, dan mata berair. Awitan gejala-gejala dimulai dalam 2 jam pertama setelah pemajanan.

Derajad Sedang

Derajat sedang dapat mencakup semua gejala-gejala ringan ditambah bronkospasme dan edema jalan nafas atau laring dengan dispnea, batuk dan mengi. Wajah kemerahan, hangat, ansietas, dan gatal-gatal juga sering terjadi. Awitan gejala-gejala sama dengan reaksi ringan.

Derajad Berat

Derajat berat mempunyai awitan yang sangat mendadak dengan tanda-tanda dan gejala-gejala yang sama seperti yang telah disebutkan diatas disertai kemajuan yang pesat kearah bronkospame, edema laring, dispnea berat, dan sianosis. Bisa diiringi gejala disfagia, keram pada abdomen, muntah, diare, dan kejang-kejang. Henti jantung dan koma jarang terjadi.

Gangguan sistem tubuh

  • Kematian dapat disebabkan oleh gagal napas, aritmia ventrikel atau renjatan yang irreversible.
  • Gejala terjadi segera setelah terpapar dengan antigen. Dan terjadi pada dua atau lebih organ target. Antara lain kardiovaskuler, respirasi, gastrointestinal, kulit, mata, susunan saraf pusat, sistem saluran kencing, dan sistem lain.
  • Keluhan yang sering dijumpai pada fase permulaan ialah rasa takut, perih dalam mulut, gatal pada mata dan kulit, panas. Juga kesemutan pada tungkai, sesak, serak, mual, pusing, lemas dan sakit perut.
  • Bagian dalam hidung diperiksa untuk menilai warna mukosa, jumlah, dan bentuk sekret, edema, polip hidung, dan deviasi septum. Pada kulit terdapat eritema, edema, gatal, urtikaria, kulit terasa hangat atau dingin, lembab/basah, dan diaphoresis.
  • Pada sistem respirasi terjadi hiperventilasi, aliran darah paru menurun, penurunan saturasi oksigen, peningkatan tekanan pulmonal, gagal nafas, dan penurunan volume tidal.
  • Saluran nafas atas bisa mengalami gangguan jika lidah atau orofaring terlibat sehingga terjadi stridor. Suara bisa serak bahkan tidak ada suara sama sekali jika edema terus memburuk.
  • Obstruksi saluran napas yang komplit adalah penyebab kematian paling sering pada anafilaksis. Bunyi napas mengi terjadi apabila saluran napas bawah terganggu karena bronkospasme atau edema mukosa. Selain itu juga terjadi batuk-batuk, hidung tersumbat, serta bersin-bersin.
  • Keadaan bingung dan gelisah diikuti pula oleh penurunan kesadaran sampai terjadi koma merupakan gangguan pada susunan saraf pusat.
  • Pada sistem kardiovaskular terjadi hipotensi, takikardia, pucat, keringat dingin, tanda-tanda iskemia otot jantung (angina), kebocoran endotel yang menyebabkan terjadinya edema, disertai pula dengan aritmia.
  • Sementara pada ginjal, terjadi hipoperfusi ginjal yang mengakibatkan penurunan pengeluaran urine (oligouri atau anuri) akibat penurunan GFR yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya gagal ginjal akut. Selain itu terjadi peningkatan BUN dan kreatinin disertai dengan perubahan kandungan elektrolit pada urine.
  • Hipoperfusi pada sistem hepatobilier mengakibatkan terjadinya nekrosis selsentral, peningkatan kadar enzim hati, dan koagulopati. Gejala yang timbul pada sistem gastrointestinal merupakan akibat dari edema intestinal akut dan spasme otot polos, berupa nyeri abdomen, mual-muntah atau diare. Kadang-kadang dijumpai perdarahan rektal yang terjadi akibat iskemia atau infark usus.

Patofisiologi

Reaksi tipe I

Reaksi hipersensitivitas ini juga dikenal sebagai reaksi cepat atau reaksi anafilaksis, dimana reaksi muncul segera setelah alergen masuk ke dalam tubuh. Alergen atau antigen yang masuk nantinya akan ditangkap oleh fagosit, diproses dan dipresentasikan pada sel Th2, yang merupakan sel yang akan melepas sitokin dan merangsang sel B untuk membentuk IgE. IgE sendiri akan diikat oleh sel yang memiliki reseptor seperti sel mast, basofil, dan eosinofil.

Apabila tubuh terpapar ulang dengan alergen yang sama, alergen tersebut akan diikat oleh IgE spesifik yang berada di permukaan sel mast, dan nantinya akan menimbulkan degranulasi sel mast. Degranulasi tersebut melepaskan berbagai mediator seperti histamin yang akan menimbulkan gejala klinis pada reaksi alergi ini. Selain histamin, mediator lain seperti prostaglandin dan leukotrin yang dihasilkan dari metabolisme asam arakhidonat juga berperan pada fase lambat dari reaksi tipe I, dimana muncul gejala beberapa jam setelah paparan. Beberapa gejala yang segera muncul setelah paparan alergen antara lain asma bronkial, rinitis, urtikaria, dan dermatitis atopik.

Reaksi tipe II

Reaksi tipe II atau reaksi sitotoksik terjadi karena terbentuknya antibodi IgG atau IgM karena paparan antigen. Ikatan antibodi antigen tersebut nantinya dapat mengaktifkan komplemen dan menimbulkan lisis sel. Lisis dari suatu sel sendiri juga dapat terjadi melalui sensitisasi sel NK yang berperan sebagai efektor antibody dependent cell cytotoxicity. Contoh dari reaksi tipe II adalah destruksi sel darah merah akibat reaksi transfusi dan juga kasus anemia hemolitik. Sebagian kerusakan jaringan pada penyakit autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis juga timbul melalui mekanisme ini.

Reaksi tipe III

Reaksi tipe III yang juga disebut reaksi kompleks imun terjadi akibat adanya endapan kompleks antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah. Antibodi yang berperan pada kasus ini adalah IgG atau IgM. Kompleks tersebut akan mengaktifkan komplemen yang kemudian melepaskan berbagai mediator terutama macrophage chemotactic factor. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut nantinya akan merusak jaringan sekitar. Antigen sendiri dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten seperti malaria, bahan yang terhirup seperti spora jamur, atau bahkan dari jaringan sendiri seperti pada kasus autoimun.

Reaksi tipe IV

Reaksi tipe ini muncul lebih dari 24 jam setelah paparan antigen, sehingga disebut juga dengan reaksi hipersensitivitas tipe lambat. Reaksi ini dibagi menjadi delayed type hypersensitivity (DTH) yang terjadi melalui peran CD4+ dan T cell mediated cytolysis dengan peran CD8+.13  Pada DTH, sel CD4+ Th1 yang mengaktifkan makrofag berperan sebagai sel efektor. Sel tersebut melepas sitokin interferon gamma yang nantinya akan mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi.

Kerusakan jaringan pada reaksi tipe ini diakibatkan oleh produk makrofag yang teraktivasi seperti enzim hidrolitik, oksigen reaktif intermediet, oksida nitrat, dan sitokin proinflamasi. Contoh reaksi DTH adalah reaksi tuberkulin, dermatitis kontak, dan reaksi granuloma.13 Reaksi hipersensitivitas selular merupakan suatu reaksi autoimunitas, oleh karena itu reaksi yang muncul pada umumnya terbatas pada satu organ saja dimana kerusakan yang terjadi merupakan akibat dari CD8+ yang langsung membunuh sel target. Sebagai contoh pada infeksi virus hepatitis, virus tersebut tidak bersifat sitopatik namun kerusakan yang ada ditimbulkan oleh respon cytotoxic T lymphocyte terhadap hepatosit yang terinfeksi.

Pemeriksaan Diagnostik

Untuk mengetahui babarapa penyebab terjadinya syok anafilatik, maka dilakukan beberapa tes untuk mengidentifikasi alergennya :

Skin tes

Skin tes merupakan cara yang banyak digunakan, untuk mengevaluasi sensitivitas alerginya. Keterbatasan skin tes adalah adanya hasil positif palsu dan adanya reexposure dengan agen yang akan mengakibatkan efek samping serius yang akan datang, oleh karena itu pemberiannya diencerkan 1 : 1.000 sampai 1 : 1.000.000 dari dosis initial.

Kadar komplemen dan antibody

Meskipun kadar komplemen tidak berubah dan Ig E menurun setelah reaksi anafilaktik, keadaan ini tidak berkaitan dengan reaksi imunologi. Pada tes ini penderita diberikan obat yang dicurigai secara intra vena, kemudian diamati kadar Ig E nya, akan tetapi cara ini dapat mengancam kehidupan.

Pelepasan histamin oleh lekosit in vitro

Histamin dilepaskan bila lekosit yang diselimuti Ig E terpapar oleh antigen imunospesifik. Pelepasan histamin tergantung dari derajat spesifitas sel yang disensitisasi oleh antibodi Ig E. akan tetapi ada beberapa agent yang dapat menimbulkan reaksi langsung (non imunologik) pada pelepasan histamin.

Radio allergo sorbent test ( RAST )

Antigen spesifik antibodi Ig E dapat diukur dengan menggunakan RAST. Pada RAST, suatu kompleks pada sebuah antigen berikatan dengan matriks yang tidak larut diinkubasi dengan serum penderita. Jumlah imunospesifik antibodi Ig E ditentukan dengan inkubasi pada kompleks dan serum dengan ikatan radioaktif 125-labelled anti-Ig E. ikatan radioaktif ini mencerminkan antigen-spesifik antibodi.

Hitung eosinofil darah tepi

Menunjukan adanya alergi dengan peningkatan jumlah .

Pencegahan Reaksi Anafilaktik

Reaksi anafilaktis sulit untuk dicegah bila Anda tidak mengetahui bahwa Anda memiliki alergi terhadap zat tertentu, karena pencegahan terbaik untuk mencegah syok anafilaktik adalah menghindari alergen tersebut. Dengan membaca label keterangan pada kemasan makanan, menghindari gigitan serangga, atau mengonsumsi antibiotik jenis lain yang tidak menyebabkan alergi, Anda dapat terhindar dari reaksi alergi dan syok anafilaktik.

Bila Anda pernah mengalami reaksi alergi atau syok anafilaktik, sebaiknya segera melakukan tes alergi di rumah sakit atau klinik terdekat. Buat dan bawalah selalu obat-obatan, terutama adrenalin auto-injector, serta catatan kecil berisi daftar alergen Anda dan apa yang harus dilakukan oleh orang-orang di sekitar Anda jika serangan syok anafilaktik terjadi. Selalu lengkapi dan perbarui persediaan obat-obatan yang Anda perlukan untuk mengantisipasi saat situasi darurat terjadi. Syok anafilaktik dapat berujung kepada kematian yang disebabkan oleh terhentinya detak jantung dan pernapasan. Pengenalan gejala dan mempelajari tindakan pencegahan dapat membantu pasien terhindar dari risiko kematian akibat syok anafilaktik.

Penatalaksanaan Reaksi Anafilaktik

Penatalaksanaan farmakologis seperti pemberian epinephrine intravena pada pasien rekasi anafilaksis tidak boleh ditunda. Pemberian epinephrine pertama diberikan 0,01 ml/kg/BB sampai mencapai maksimal 0,3 ml subkutan dan diberikan setiap 15-20 menit sampai 3-4 kali. Seandainnya kondisi semakin memburuk atau memang kondisinya sudah buruk, suntikan dapat diberikan secara intramuskuler dan bisa dinaikan sampai 0,5 ml selama pasien diketahui tidak mengidap penyakit jantung.1 Antihistamin dan kortikosteroid juga dapat diberikan. Antihistamin pada fase akut dapat menghilangkan pruritus, misalnya dipenhydramin 25-50 mg intravena secara perlahan-lahan. Kortikosteroid tidak bermanfaat pada fase akut, tetapi bermanfaat pada syok yang berkepanjangan dan penyempitan saluran nafas, dapat diberikan metilprednisolon 125 mg intravena.7

Selanjutnya dua hal penting yang harus segera diperhatikan dalam memberikan terapi pada pasien anafilaksis yaitu mengusahakan: 1) Sistem pernapasan yang lancar, sehingga oksigenasi berjalan baik; 2) Sistem kardiovaskular yang juga harus berfungsi baik sehingga perfusi jaringan memadai. Meskipun prioritas pengobatan ditujukan kepada sistem pernapasan dan kardiovaskular, tidak berarti pada organ lain tidak perlu diperhatikan atau diobati. Prioritas ini berdasarkan kenyataan bahwa kematian pada anafilaksis terutama disebabkan oleh tersumbatnya saluran napas atau syok anafilaksis.

Komplikasi

Reaksi atau syok anafilaktik dapat mengakibatkan komplikasi berupa gagal ginjal, aritmia, serangan jantung, kerusakan otak, dan syok kardiogenik. Untuk itu, segera minta pertolongan dari dokter agar syok anafilaktik bisa segera tertangani. Komplikasinya meliputi :

  1. Henti jantung (cardiac arrest) dan nafas.
  2. Bronkospasme persisten
  3. Oedema Larynx (dapat mengakibatkan kematian).
  4. Relaps jantung dan pembuluh darah (kardiovaskuler).
  5. Kerusakan otak permanen akibat syok.
  6. Urtikaria dan angoioedema menetap sampai beberapa bulan

Kemungkinan rekurensi di masa mendatang dan kematian. (Michael I. Greenberg, Teks-Atlas Kedokteran Kedaruratan, Hal. 24).

Syok Anafilaktik
WOC syok anafilaktik

Kasus

Tn KS, umur 45 tahun, CM 186233, alamat Batu Agung, pekerjaan Buruh. masuk ke ICU pada tanggal 14 Februari 2018 jam 15.45 wita  dengan keadaan umum lemah, kesadaran spoor, GCS E1V2M2. Pasien terpasang NRM 8lpm.  Diagnosa medis saat masuk dispnea ec syok anaphilaptik + DOC.

Riwayat pasang pen 1 bulan yll, pada hari ke 30 pasien merasa panas dan nyeri pada seluruh tubuh kemudian pasien membeli obat antalgin dan PCT 500 mg di apotik setelah itu pasien mengalami urtikaria seluruh tubuh. Setelah itu pasien ke dokter dan mendapat suntikan tapi tidak tahu apa yang telah disuntikkan kemungkinan menurut asisten yang bekerja di praktik dokter obatnya adalah dexa 5 mg injeksi, setelah mendapat suntikan keesokan harinya wajahnya bengkak terdapat angioderma dan setelah menjelang sore pasien mulai merasakan nafasnya terasa berat.

Pada waktu masuk ke ICU saturasi oksigen 89%, sudah tampak ada retraksi otot pernafasan, akral teraba hangat. TD menurun 169/99mmHg. Terapinya  : NRM 8 lpm, Hidrokortison 100mg @ 12 jam, ceftazidime 1 gr, gigadryl C1 @ 8 jam, azithromycin 500mg@ 24 jam, aminophillin 0,5 mg/kgBB (titrasi dalam siringe pump). TD awal 169/99 mmHg dan terus dimonitor setiap 30 menit, suara nafas ronkhi (+/+), pupil isokor (2+/2+), skala nyeri 3 dengan BPS. Konjungtiva warna merah muda, tidak tampak ada perdarahan aktif. Terpasang NGT diet 100cc susu entresol @ 8 jam. Terpasang DC produksi 50cc/6 jam warna kuning pekat.

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai artikel Syok Anafilaktik : Definisi, Etiologi, Patofisiologi. Semoga artikel kami yang berjudul Syok Anafilaktik : Definisi, Etiologi, Patofisiologi bermanfaat bagi rekan-rekan. Terima Kasih

Unduh Materi

Unduh Materi Lengkap disini : syokanafilaktik

Artikel SebelumnyaDaun Pegagan Meningkatkan Kesuburan Wanita
Artikel SelanjutnyaBangle Meningkatkan Kesuburan Wanita
Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini