Gangguan Psikosomatis Mempengaruhi Lambung

Gangguan Psikosomatis Mempengaruhi Lambung merupakan judul artikel yang akan maimelajah.com bahas pada kesempatan kali ini. Pada abad pertengahan seorang ahli bernama Almy mengatakan bahwa stress mempunyai respon terhadap gerakan usus yang menandakan lambung berespon terhadap stress. Kemudian di awal abad ke – 20 Franz Alexander yang terkenal dengan teori psikodinamik terkait psikosomatik mengatakan kepribadian dan konflik psikologis seseorang mempunyai pengaruh terhadap terjadinya penyakit lambung ulkus peptikum dan penyakit peradangan lambung. Selanjutnya ditemukan helicobacter pylori sebagai penyebab ulkus peptikum pada beberapa pasien sehingga gangguan lambung agak dikesampingkan, sampai sekarang para ahli dibidang lambung masih belum dapat menjelaskan secara jelas perkembangan penyakit, menifestasi klinik dan harapan kesembuhan dari beberapa kasus gangguan lambung terutama dyspepsia dan gangguan perut akibat iritabilitas (irritable bowel disorder). Di sinilah peran pendekatan psikosomatik pada gangguan lambung mendapatkan tempatnya.

Sejak awal tahun 1970an, George Engel sudah menegaskan konsep biopsikososial dalam menerangkan suatu kondisi medis seseorang. Konsep ini menjelaskan bahwa perjalanan penyakit seseorang tergantung dari 3 faktor yaitu biologi, psikologi dan social. Konsep ini memandang pasien secara menyeluruh dan bukan hanya dari segi medis biologsnya saja. Pendekatan ini semakin mendapatkan tempat dengan perkembangan penelitian berbasis neurosains untuk kasus – kasus gangguan jiwa, sehingga terdapat dasar yang bisa menjelaskan antara apa yang terjadi di otak pasien gangguan jiwa seperti cemas dan depresi dengan apa yang bisa dialami oleh organ lain di tubuh manusia.

Dispepsia Fungsional

Keluhan pasien yang biasanya dialami pada gangguan dyspepsia fungsional adalah perasaan nyeri atau tidak nyaman di bagian tengah perut yang biasanya berlangsung lama dan terus menerus serta tidak berhubungan dengan gerakan usus. Keluhan lain yang bisa timbul adalah perasaan panas di dada (heart burn) dan mual.

Pasien dengan gangguan dyspepsia fungsional pada pemeriksaan obyektif tidak didapatkan dasar organic yang mendukung keluhannya saat ini. Hal ini biasanya berlangsung sudah lebih dari tiga bulan dengan pengobatan yang sudah dilakukan tetapi tidak memberikan hasil yang baik. Secara teoritis dyspepsia fungsional dibagi menjadi 2 bagian yaitu tipe seperti ulkus (ulcer like) dan tipe seperti dismotilitas (dismotility like).

Keluhan seperti ulkus biasanya perih di lambung dan bisa menghilang dengan pemberian makanan sedangkan untuk tipe seperti kembung yang semakin tidak nyaman jika diberikan makanan. Tatalaksana kedua hal ini sedikit berbeda walaupun keterkaitan cemas dan depresi pada kedua gangguan ini seringkali sangat kentara.

Tatalaksana untuk kedua gangguan di atas sebenarnya dimulai dengan modifikasi gaya hidup dan edukasi pasien tentang hal tersebut. Makan makanan dalam jumlah sedikit tapi sering, tidak merokok, tidak minum alcohol, mengurangi makanan atau minuman yang mengandung kafein, kurangi makan makanan yang mengiritasi usus seperti terlalu asam, berlemak serta mempertahankan berat tubuh ideal adalah modifikasi gaya hidup yang bisa dilakukan.

Pendekatan Psikosomatis

Pendekatan yang kronis dan terus menerus dirasakan sangat berhubungan dengan kesehatan jiwa seseorang. Dispepsia fungsional juga demikian. Pada beberapa penelitian dkatakan bahwa pasien yang mengalami dyspepsia fungsional lebih rentan mengalami kecemasan dan bisa mengarah  ke depresi jika pengobatan yang tepat belum dilakukan. Penelitian lain mengatakan bahwa pada beberapa kasus pasien dengan gangguan cemas panik dan depresi, keluhan lambung lebih sering dikeluhkan daripada keluhan lainnya atau paling tidak keluhan utama kedua seelah jantung berdebar pada pasien gangguan cemas panik. Hal ini semakin menjelaskan adanya hubungan antara stress dan gangguan lambung yang bisa diderita oleh pasien.

Nyeri lambung juga salah satu yang sering diteliti oleh banyak ahli. Perasaan nyeri ini terkadang lebih bersifat persepsi tanpa disertai adanya dasar organic yang jelas sangat berhubungan dengan konsep psikosomatik. Penelitian mengatakan bahwa kondisi social lingkungan yang penuh stress dapat memicu terjadinya gangguan dyspepsia fungsional. Penelitian mengatakan hubungan personal antar pasangan yang tidak baik, perpisahan atau perceraian adalah stress lingkungan yang paling banyak berpengaruh terhadap timbulnya keluhan – keluhan dyspepsia fungsional.

Pasien dengan gangguan dispepsia fungsional memang perlu penanganan menyeluruh. Gangguan ini jangan dipandang dari segi medis saja. Seringkali pasien memakan berbagai macam obat lambung tetapi tetap tidak dapat mengobati keluhannya. Apalagi bagi pasien yang memang dasar diagnosis sebenarnya adalah gangguan depresi. Tata laksana gangguan dasarnya akan berakibat juga menghilangkan keluhan lambung. Nyeri lambung adalah bagian dari tata laksana yang paling dominan dalam mengatasi kondisi pasien gangguan dispepsia fungsional. Teknik – teknik psikoterapi yang berkaitan dengan pengalihan rasa nyeri bebarengan dengan penggunaan obat untuk menghilangkan keluhan yang paling sering dikeluhkan ini. Hal – hal yang berkaitan dengan stres sosial dan lingkungan yang berat dapat ditangani dengan penggunaan teknik psikoterapi yang tepat. Gangguan kejiwaan yang sering menifestasinya gangguan fisik termasuk gangguan lambung juga perlu mendapatkan penanganan yang tepat. Hal ini sering dilupakan jika konsep biopsikososial belum begitu dipahami oleh tenaga medis yang merawat pasien dengan dispepsia fungsional.

Penutup

Demikian penjelasan singkat mengenai Gangguan Psikosomatis Mempengaruhi Lambung. Semoga artikel ini bermanfaat buat kita semua. Terima Kasih

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: