Stress dan Depresi, Apa perbedaannya?

Kali ini maimelajah.com akan membahas tentang stress dan depresi. Stress adalah respons umum dari tubuh terhadap segala jenis tuntutan (stresor) yang diberikan kepadanya. Semua orang mempunyai masalah yang menjadikan stressor bagi dirinya namun tidak semua orang dapat mengelola stress ini dengan baik. Orang yang mampu memanajemen stressor tidak akan jatuh menjadi depresi. Depresi adalah ketidakmampuan tubuh mengelola stressor sehingga akan merugikan diri sendiri. Depresi ditandai dengan kesedihan, pesimisme, perasaan gagal, ketidakpuasan, perasaan bersalah, ketidaksukaan pada diri sendiri, bahaya diri, penarikan diri, ketidakmampuan membuat keputusan, perubahan gambaran diri, kesulitan bekerja, kelemahan, anoreksia. Stress dan depresi merupakan hal yang berbeda karena setiap orang bisa mengalami stres tapi tidak semua orang dapat jatuh pada tingkat depresi. Stress yang diterima tubuh harus dapat dikelola dengan baik sehingga tidak sampai jatuh pada tingkat depresi

Pengertian Major Depressive Disorder (MDD)

Major Depressive Disorder (MDD) merupakan gangguan jiwa yang dikaitkan dengan angka kematian yang tinggi. Sekitar 15% penderitanya meninggal karena bunuh diri. Bagi penderita yang berusia di atas 55 tahun, angka kematiannya mencapai empat kali lebih tinggi. MDD sering kali berhubungan dengan penyakit medis lainnya; 20%-25% penderita penyakit seperti diabetes, gangguan jantung, kanker, dan stroke, berpotensi mengidap MDD. Angka MDD dua kali lebih tinggi di kalangan wanita, baik yang remaja atau yang sudah dewasa. Angka MDD di kalangan wanita adalah antara 10%-25%, sedangkan di kalangan pria antara 5%-12%. Angka MDD lebih tinggi di kalangan orang yang berusia 25-44 tahun dan lebih rendah pada yang berusia di atas 65.

MDD dapat menyerang pada usia berapa pun namun pada umumnya pertengahan duapuluhan. MDD dapat sembuh secara total atau parsial; sepertiga dari kasus MDD tidak sembuh sama sekali. Sekitar 50%-60% kasus MDD terulang kembali dan 70% dari kasus pengulangan membuka peluang terjadinya serangan ketiga. Bagi yang pernah mengalami tiga penyerangan MDD, 90% berkemungkinan mengalami serangan keempat. Bagi yang mengalami penyembuhan parsial atau tidak tuntas, kemungkinan terkena kembalinya lebih besar.

Biasanya stress yang berat mendahului munculnya MDD, misalnya kematian seseorang yang dikasihi atau perceraian. Penyakit medis yang kronis atau ketergantungan narkoba (terutama alkohol atau kokain) juga memberi sumbangsih pada kemunculan MDD atau memperparah gejalanya. Angka MDD 1,5 sampai 3 kali lebih tinggi di kalangan kerabat kandung (first-degree biological relatives) dibanding masyarakat pada umumnya.

Dysthymic Disorder dibedakan dari MDD dalam hal keparahannya (severity), berapa kronisnya (chronicity), dan berapa alotnya (persistence). Pada MDD, suasana hati yang penuh depresi menguasai si penderita hampir sepanjang hari dan hampir setiap hari, selama sekurang-kurangnya 2 minggu. Pada Dysthymic Disorder, hari-hari yang ditandai dengan suasana hati yang depresif lebih sering muncul daripada yang sebaliknya, selama sekurang-kurangnya 2 tahun.

Ciri dan Kriteria

Untuk dapat didiagnosis dengan MDD, perlu adanya lima (atau lebih dari lima) gejala di bawah ini selama 2 minggu, yang menandakan perubahan fungsi sehari-hari. Salah satu dari gejala-gejalanya haruslah suasana hati yang depresif atau hilangnya minat atau kesenangan.

  1. Suasana hati yang depresif hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, misalnya merasa sedih atau kosong, atau ditunjukkan melalui tangisan.
  2. Menurunnya minat atau kesenangan pada aktivitas sehari-hari, hampir sepanjang hari, hampir setiap hari.
  3. Menurunnya berat badan secara drastik meski tidak sedang berdiet atau bertambahnya berat badan, atau menurun atau bertambahnya selera makan hampir setiap hari.
  4. Insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari.
  5. Bertambah cepat atau melambannya gerakan tubuh hampir setiap hari.
  6. Rasa letih atau kehilangan energi hampir setiap hari.
  7. Merasa tidak berharga atau merasa bersalah secara berlebihan atau tidak pada tempatnya, hampir setiap hari.
  8. Menurunnya kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi, atau bingung dan ragu-ragu (indecisive), hampir setiap hari.
  9. Munculnya pikiran tentang kematian (bukan hanya takut mati), keinginan untuk membunuh diri walau tanpa rencana yang matang, atau mencoba membunuh diri atau merencanakan dengan matang untuk membunuh diri.

Penutup

Demikian penjelasan singkat tentang materi Stress dan Depresi, Apa perbedaannya?. Semoga artikel ini dapat menjadi bahan belajar bagi teman-teman. Terima Kasih

Unduh Materi

Materi lengkapnya dapat diunduh di : Skala Depresi

Dexta

Salah satu Perawat di RSU yang ada di Bali dan Hobby suka Menulis

Mungkin Anda Menyukai

4 tanggapan untuk “Stress dan Depresi, Apa perbedaannya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: